Peluang dan Tantangan Perempuan dalam Pilkada Sumsel 2024, Begini Kata Pengamat Politik

AKURAT.CO SUMSEL Kontestasi Pilkada di Sumsel pada tahun ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Bagaimana tidak, ada beberapa bakal calon dari gender perempuan.
Pada Pilkada sebelumnya, perebutan kursi kepala daerah di wilayah Sumsel didominasi oleh kaum laki-laki. Tapi, dengan masifnya seruan kesetaraan gender menjadikan para bakal calon perempuan tersebut siap bersaing dalam pemilihan kali ini.
Seperti di Pilgub Sumsel sendiri ada nama Ketua Komisi IV DPRD Sumsel yaitu Holda, Meli Mustika dan Ketua DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati yang akan maju.
Sedangkan untuk Pilwako Palembang ada Fitri Agustinda yang merupakan mantan Wali Kota Palembang juga ada nama pendatang baru yakni Nandriani yang baru saja di usung oleh PKB.
Sementara, untuk Pilbup Muara Enim ada 5 perempuan yang bakal maju yaitu Shinta Paramitha, Sumarni Ahmad Yani, Lia Anggraeni, Munyati, dan Dessy Puspa Asni.
Hal tersebut mendapat perhatian dari Pengamat politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya (ForDes), Bagindo Togar yang melihat ada pergeseran signifikan dalam partisipasi perempuan di politik. Mereka kini lebih peka terhadap isu kesetaraan dan aktif memanfaatkan peluang yang ada
"Mereka ini peka terhadap isu kesetaraan gender, dan mereka berusaha untuk mematahkan dominasi pria yang terkesan mendiskriminasi," ungkapnya, Kamis (23/5/2024).
Meskipun demikian, motivasi perempuan yang terjun ke dunia politik bervariasi. Ada yang hanya mencari pengalaman, tetapi ada juga yang serius dan ingin membawa perubahan.
"Meskipun beberapa perempuan melihat kesempatan ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, ada juga yang serius berkompetisi dengan kemampuan dan keahlian yang mumpuni," ungkapnya.
Dibandingkan dengan bidang lain, perempuan memiliki akses yang lebih mudah ke ranah politik, terutama karena undang-undang dan dorongan pemerintah yang menuntut keterwakilan perempuan. Tetapi untuk menang dalam kompetisi politik, pengalaman dan ketahanan sangat penting.
"Pengalaman, kecerdasan, soft skill, dan karisma perempuan sangat menentukan kemungkinan mereka untuk menang dalam politik. Mereka yang bertahan lebih lama daripada orang lain biasanya lebih berpeluang untuk berhasil," jelasnya.
Bagindo juga mengakui bahwa, meskipun peluang bagi perempuan telah ditingkatkan, masih ada tantangan.
"Endurance perempuan dalam eksplorasi politik sering kali masih dianggap kurang dibandingkan laki-laki. Namun, perempuan yang sudah berpengalaman dan memiliki soft skill serta intelektual yang kuat sering kali berhasil membuktikan kapasitasnya," katanya.
Sebuah survei menunjukkan bahwa partai politik cenderung mendorong kandidat perempuan, terutama mereka yang memiliki potensi yang besar. Namun, tidak diragukan lagi ada beberapa perempuan yang masih merasa tidak aman karena persaingan yang ketat.
"Stereotipe tentang perempuan yang terlibat dalam politik mulai berubah sekarang. Sekarang masyarakat lebih memahami kesetaraan gender dan menilainya dengan cara yang lebih objektif. Ideologi konservatif telah ditinggalkan, yang membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk berkiprah di politik," tutupnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









