Sumsel

Belum Ada Kasus di RI, Pemerintah Perkuat Antisipasi Virus Nipah

Maman Suparman | 31 Januari 2026, 12:00 WIB
Belum Ada Kasus di RI, Pemerintah Perkuat Antisipasi Virus Nipah

AKURAT.CO SUMSEL Badan Karantina Indonesia (Barantin) meningkatkan kewaspadaan nasional menyusul munculnya laporan kasus virus Nipah (Nipah Virus/NiV) di sejumlah negara Asia Selatan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit hewan menular berbahaya tersebut ke wilayah Indonesia.

Kepala Barantin Sahat M Panggabean menegaskan, penguatan pengawasan merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

“Meski hingga saat ini Indonesia masih bebas virus Nipah, potensi risiko tetap harus diantisipasi secara serius,” kata Sahat dalam keterangan resminya, Sabtu (31/1/2026)

Menurut Sahat, kewaspadaan dilakukan secara terintegrasi melalui pendekatan manajemen risiko, penguatan sistem karantina modern, serta sinergi lintas sektor dengan kementerian dan lembaga terkait.

Virus Nipah merupakan virus RNA dari genus Henipavirus yang bersifat zoonotik, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini pertama kali teridentifikasi pada 1998–1999 di Malaysia dan dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Kelelawar buah (Pteropus spp.) menjadi inang alami utama virus ini. Penularan dapat terjadi melalui urin, air liur, sisa makanan, buah, hingga minuman yang terkontaminasi. Dalam sejumlah wabah, babi berperan sebagai inang penguat yang mempercepat penyebaran virus ke manusia.

“Pergerakan hewan hidup dari negara tertular seperti India, Bangladesh, Malaysia, hingga Filipina menjadi salah satu faktor risiko utama,” ujar Sahat.

Selain hewan hidup, virus Nipah juga berpotensi masuk melalui produk hewan, produk tumbuhan, lingkungan, maupun sarana angkut yang terkontaminasi.

Baca Juga: Heboh Kasus Virus Nipah Terdeteksi di India, Kenala Gejala Awal dan Tanda Bahayanya

Hingga akhir Januari 2026, otoritas kesehatan di Benggala Barat, India, melaporkan adanya kasus virus Nipah pada manusia. Kondisi ini mendorong berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengawasan kesehatan dan karantina di pintu masuk internasional.

Wilayah Asia Tenggara dinilai memiliki potensi risiko secara ekologis karena populasi alami kelelawar Pteropus yang cukup besar. Ditambah lagi, hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk virus Nipah.

“Karena itu, kewaspadaan regional dan kerja sama internasional menjadi sangat penting, terutama di wilayah perbatasan seperti Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang berbatasan langsung dengan Malaysia,” jelas Sahat.

Barantin memastikan, hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia. Meski demikian, penguatan kesiapsiagaan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, laboratorium, serta sistem pemantauan penyakit hewan.

Barantin juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan instansi terkait untuk memastikan deteksi dini dan respons cepat jika ditemukan indikasi penyakit.

Pada hewan, babi yang terinfeksi virus Nipah umumnya menunjukkan gangguan pernapasan dan saraf, seperti demam tinggi, batuk keras, tremor otot, hingga keguguran. Pada manusia, gejala awal menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas.

Dalam kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut, pendarahan saluran cerna, gangguan ginjal, hingga berujung pada kematian.

Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi produk hewan yang tidak dimasak sempurna, konsumsi nira atau buah yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan penderita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia