Waspada! Bibit Siklon 91S Picu Cuaca Ekstrem di Sumsel, 14 Wilayah Terancam Bencana

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memasuki periode waspada bencana hidrometeorologi menyusul kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S di Samudera Hindia.
Meskipun belum sepenuhnya berkembang menjadi siklon, sistem cuaca ini telah memberikan pengaruh signifikan dengan memicu peningkatan intensitas hujan lebat di sejumlah besar wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi SMB II Palembang memprediksi periode cuaca ekstrem ini akan berlangsung mulai 9 hingga 13 Desember 2025. Intensitas curah hujan dipastikan akan meningkat secara bertahap, memaksa pemerintah daerah untuk segera mengaktifkan langkah-langkah mitigasi.
Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa Bibit Siklon 91S pertama kali terdeteksi pada 7 Desember di sebelah barat daya Lampung, Samudera Hindia. Sistem ini memiliki sirkulasi yang cukup kuat, ditandai dengan kecepatan angin hingga 37 kilometer per jam dan tekanan udara rendah.
"Dalam 24 jam ke depan, bibit siklon ini masih aktif tetapi cenderung bergerak melemah ke arah timur laut," terang Siswanto pada hari Selasa (9/12/2025).
Baca Juga: Nilmaizar Soroti Lini Depan Sumsel United, Hanya Cetak 16 Gol dari 12 Laga
Meski peluangnya untuk menjadi siklon penuh dinilai kecil, kombinasi antara fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) negatif dan hangatnya suhu muka laut berkontribusi pada pembentukan awan konvektif yang masif. Hal ini menyebabkan intensitas hujan diperkirakan mencapai 20–50 mm hingga 50–100 mm per hari.
Dampak dari Bibit Siklon Tropis 91S diperkirakan paling signifikan akan dirasakan oleh 14 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, meliputi Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Lubuklinggau, Empat Lawang, Lahat, Pagaralam, Muara Enim, OKU, OKU Selatan, OKU Timur, Musi Banyuasin, PALI, Prabumulih, dan OKI.
Selain curah hujan yang tinggi, sistem 91S juga berpotensi memicu bencana ikutan seperti angin kencang, sambaran petir, banjir bandang, serta tanah longsor di wilayah-wilayah tersebut.
Potensi tanah longsor diwaspadai khususnya di kawasan dataran tinggi dan berbukit seperti Pagaralam, Lahat, dan Empat Lawang.
Dalam jangka waktu 48 jam ke depan, sirkulasi sistem diprediksi akan kembali menguat dengan angin maksimum mencapai 20 knot, sebelum perlahan melemah dalam 72 jam berikutnya.
BMKG mendesak seluruh pemerintah kabupaten/kota yang terdampak untuk meningkatkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri guna mempersiapkan langkah penanganan bencana secara cepat.
"Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruang saat hujan deras, menghindari area rawan longsor, dan terus memantau peringatan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG," tutup Siswanto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









