Sumsel Dorong Padi Apung Jadi Solusi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak yang Masih Terbengkalai

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyimpan potensi pertanian besar yang belum sepenuhnya tergarap, terutama pada lahan rawa lebak yang luasnya hampir menyentuh angka 3 juta hektare. Sayangnya, sejauh ini baru sekitar 12 persen saja yang dimanfaatkan.
Melihat kondisi ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel mendorong pengembangan padi apung sebagai inovasi baru dalam menghadapi tantangan pertanian di lahan dengan genangan air tinggi.
Terobosan ini diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Lahan lebak, terutama lebak dalam, selama ini hanya bisa ditanami sekali dalam setahun karena ketergantungan pada musim surut. Dengan padi apung, lahan itu bisa dimanfaatkan lebih optimal,” ungkap Wahyu Anita Sari, Kepala Seksi Pelayanan Teknis Mutu Benih, Sabtu (14/6/2025).
Baca Juga: Kloter 2 Tiba di Palembang, 369 Jemaah Haji Selamat Pulang, Satu Dirujuk ke RS Siti Fatimah
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, dari total 2,98 juta hektare lahan rawa lebak di Sumsel, baru sekitar 368.681 hektare yang digarap.
Itu pun terdiri dari lebak dangkal, tengahan, dan dalam masing-masing memiliki karakteristik hidrologis yang berbeda dan seringkali menyulitkan petani dalam menentukan waktu tanam.
Padi apung menjadi solusi inovatif untuk memecahkan masalah klasik di pertanian rawa, yakni tingginya muka air dan singkatnya masa surut.
Dengan teknologi ini, petani tak lagi harus menunggu lahan kering total. Sebaliknya, justru bisa menanam saat air masih menggenang.
Tahun ini, pengembangan padi apung kembali diujicobakan di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) dengan luas lahan 9.000 meter persegi dan penggunaan 61 varietas padi berbeda.
Proyek ini menjadi lanjutan dari uji coba tahun sebelumnya yang menunjukkan hasil pertumbuhan cukup menjanjikan meski masih dihadapkan pada gangguan hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Menjelang panen, serangan OPT meningkat karena waktu tanam padi apung tidak bersamaan dengan padi biasa, jadi musuh alaminya lebih sedikit,” jelas Anita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Sumsel Bakal Dilanda Hujan Deras Sepanjang Hari Besok, Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
- 2Penyaluran Bansos Tahap 4 Oktober 2026 Berakhir Besok, Ini Tanda Bantuan Cair dan Masuk Rekening
- 3Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di India, Ini Spesifikasi dan Harganya
- 4Lantik 23 Pejabat Pemkot Palembang, Ratu Dewa Tekankan Kinerja dan Pelayanan Publik
- 5Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Ditutup 31 Oktober, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
- 6Harga Emas Perhiasan Palembang Hari Ini Masih Stagnan, Saatnya Beli?
- 7Ramalan Zodiak Hari Ini 31 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuanganmu?
- 8Wali Murid di Palembang Diduga Dianiaya Dua Security Sekolah, Kepala Terluka hingga Dijahit
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







