Sumsel

Inflasi Sumsel Turun Jadi 0,13 Persen di Oktober, Emas dan Telur Ayam Jadi Pendorong Utama

Maman Suparman | 8 November 2025, 11:59 WIB
Inflasi Sumsel Turun Jadi 0,13 Persen di Oktober, Emas dan Telur Ayam Jadi Pendorong Utama

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,13 persen secara month to month (mtm) pada Oktober 2025. Angka ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,27 persen (mtm).

Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi di Sumsel tercatat naik tipis menjadi 3,49 persen dari 3,44 persen pada periode sebelumnya. Meski demikian, capaian ini masih sejalan dengan tren nasional yang juga mengalami kenaikan dari 2,65 persen menjadi 2,86 persen (yoy).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi Sumsel dipicu oleh peningkatan harga sejumlah komoditas strategis, terutama emas perhiasan dan telur ayam ras.

Kenaikan harga emas disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global dan tingginya permintaan masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven asset).

Sementara itu, kenaikan harga telur dan daging ayam ras terjadi akibat meningkatnya biaya produksi.

Tekanan tambahan juga muncul dari komoditas hortikultura seperti wortel dan ketimun, karena gangguan pasokan dari sentra produksi yang terdampak curah hujan tinggi selama Oktober.

Ke depan, potensi tekanan inflasi diperkirakan masih ada, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2026.

Baca Juga: 4 Menu Makan Siang Praktis dan Sehat yang Wajib Dicoba

Selain itu, komoditas volatile food juga berpotensi menambah tekanan karena musim tanam padi dan hortikultura bertepatan dengan musim hujan yang dapat memengaruhi produktivitas.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas harga di daerah.

“TPID rutin melaksanakan operasi pasar dan gerakan pangan murah, berkoordinasi dengan Bulog untuk pendistribusian beras SPHP, serta menyalurkan komoditas terjangkau melalui Toko KePo, Rumah Pangan Kita (RPK), dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).

Selain itu, TPID juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, distributor, dan produsen guna memastikan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) serta stok barang tetap mencukupi.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia