Sumsel

Kumpulan Fakta Menarik Perang AS Iran dalam Hitungan Angka

Septiyanti Dwi Cahyani | 31 Agustus 2026, 09:00 WIB
Kumpulan Fakta Menarik Perang AS Iran dalam Hitungan Angka
Ilustrasi ketegangan AS dan Iran.

AKURAT.CO SUMSEL - Enam bulan berlalu sejak pecah perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

Hingga kini, ketegangan di antara ketiga negara tersebut masih terjadi bahkan semakin memanas dan meluas.

Baca Juga: Kualitas Udara di Palembang Malam ini Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Tak hanya serangan militer, AS juga mulai mengubah strategi perang dengan meningkatkan sanksi internasional terhadap Iran guna melumpuhkan perekonomian Teheran.

Selama perang berlangsung, tak terhitung banyaknya serangan hingga ribuan korban berjatuhan.

Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz juga jauh berkurang.

Baca Juga: Rawa Lebak Tetap Produktif Saat Kemarau, Bulog Serap 127 Ton Gabah di Sumsel

Kerugian masing-masing negara pun membengkak hingga miliaran.

Berikut adalah kumpulan fakta menarik perang AS dengan Iran dalam hitungan angka:

1. Setidaknya 7.900 Orang Tewas

Menurut angka resmi terbaru, setidaknya 4.350 orang dipastikan tewas di Lebanon, 3.527 di Iran, dan 28 di negara-negara Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Diperkirakan Mulai Datang Pertengahan Oktober, Sumsel Masih Hadapi Puncak Kemarau

Selain itu, 60 warga Israel dan 18 anggota militer AS tewas dalam serangan Iran.

Pentagon menyatakan bahwa 757 personel AS terluka.

Angka-angka ini dihimpun dari kementerian kesehatan nasional dan badan-badan resmi, serta dapat berubah seiring perkembangan situasi dan ketersediaan informasi lebih lanjut.

Baca Juga: Masa Sewa Habis, Mobil Rental Warga Palembang Tak Kunjung Kembali

2. Terjadi Lebih dari 5.500 serangan

Menurut Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), sebuah kelompok pemantau konflik yang berbasis di AS, AS dan Israel telah melancarkan setidaknya 3.580 serangan terhadap Iran sejak 28 Februari.

Dalam periode yang sama, Iran melancarkan setidaknya 2.053 serangan di wilayah Teluk dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas.

3. Dari 100 kapal Per Hari Menjadi 5 Melintas Selat Hormuz

Sebelum perang, setidaknya 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap harinya, di mana lebih dari separuhnya adalah kapal tanker yang mengangkut puluhan juta barel minyak, serta liquefied petroleum gas (LPG) dan produk petrokimia lainnya.

Namun, kondisi tersebut runtuh hanya dalam beberapa hari setelah perang dimulai.

Baca Juga: Cucu Bakar Nenek Pakai Bensin hingga Meninggal Dunia, Dibawa ke RS Ernaldi Bahar

Setelah IRGC mengumumkan penutupan selat pada 2 Maret, lalu lintas kapal turun menjadi rata-rata lima kapal per hari dan tetap di angka tersebut selama masa gencatan senjata bulan April serta blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

4. 70 Serangan Terkonfirmasi terhadap Kapal

Serangan terhadap puluhan kapal juga menjadi penyebab penurunan aktivitas pelayaran.

Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), terdapat 70 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal di Selat Hormuz, yang mengakibatkan tewasnya 19 pelaut hingga tanggal 26 Agustus.

Baca Juga: Disiram Pertalite oleh Cucunya, Nenek 89 Tahun Tewas Terbakar di Palembang

5. Biaya Perang Capai USD37,5 Miliar

Bulan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan dalam sidang Senat bahwa perang tersebut sejauh ini telah menelan biaya US$37,5 miliar; angka ini naik dari sekitar USD25 miliar pada akhir April dan sekitar US$30 miliar pada bulan Juli.

Ia mengatakan total biaya tersebut mencakup gaji, operasi, pemeliharaan, dan perkiraan biaya hingga akhir tahun anggaran pada 30 September.

Angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

Baca Juga: Karhutla di Pulau Negara Ogan Ilir Hanguskan 10 Hektare Lahan, Api Sulit Dijangkau

Media AS melaporkan perkiraan internal Pentagon berkisar antara USD80 miliar hingga USD100 miliar, termasuk biaya perbaikan pangkalan AS yang rusak, penggantian pesawat yang hancur, dan pengisian kembali stok senjata.

Namun, hingga berita ini ditulis pemerintah setempat belum memublikasikan rincian biaya secara terperinci.

6. Harga Minyak Naik 22 Persen

Sejak dimulainya perang, harga minyak mentah Brent telah naik sekitar 22 persen, dari USUSD72,48 per barel menjadi USD88,58 pada 28 Agustus.

Baca Juga: Kualitas Udara Memburuk, CFN Atmo dan CFD Palembang Resmi Ditutup Sementara

Harga sempat mencapai puncaknya di angka US$120,88 pada 30 April, atau 67 persen lebih tinggi dari tingkat sebelum perang, setelah enam bulan perdagangan yang fluktuatif.

7. Cadangan Minyak AS Turun hingga 14 Persen

Cadangan Minyak Strategis AS termasuk stok darurat minyak mentah milik pemerintah juga dilaporkan turun menjadi 290 juta barel.

Jumlah ini mencakup sekitar 41 persen dari kapasitas total 714 juta barel dan merupakan tingkat terendah sejak November 1982.

Baca Juga: Kenalan Lewat Medsos Berujung Petaka, Motor Remaja 17 Tahun Dibawa Kabur Pria yang Baru Dikenalnya

Negara-negara lain juga telah melepas cadangan mereka.

8. Popularitas Trump Turun 33 Persen

Tingkat dukungan publik terhadap Trump telah turun ke titik terendah selama masa kepresidenannya.

Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos, yang berakhir pada 24 Agustus, mendapati bahwa 33 persen warga Amerika menyetujui kinerjanya di Gedung Putih dan 65 persen tidak menyetujuinya; angka ini menyamai tingkat terendah yang pernah tercatat pada Desember 2017 di masa jabatan pertamanya.

Baca Juga: Cucu di Palembang Diduga Curi Barang Nenek Sendiri, Hasilnya Dijual untuk Beli Sabu

Jajak pendapat tersebut menemukan bahwa 80 persen warga Amerika (termasuk 87 persen dari Partai Demokrat dan 71 persen dari Partai Republik) berpendapat bahwa keterlibatan AS di Iran "akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama".

Hanya 16 persen yang memperkirakan hal itu akan berakhir dalam hitungan minggu. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.