Sumsel

Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen dalam Sepekan Usai AS Pilih Sanksi Ekonomi ke Iran

Septiyanti Dwi Cahyani | 26 Agustus 2026, 10:45 WIB
Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen dalam Sepekan Usai AS Pilih Sanksi Ekonomi ke Iran
Ilustrasi kapal pengangkut minyak mentah.

AKURAT. CO SUMSEL - Amerika Serikat kembali mengubah strategi perang melawan Iran.

Negeri Paman Sam itu kini memilih memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Teheran alih-alih serangan militer.

Hal ini berimbas pada penurunan harga minyak mentah dunia yang turun hingga 5 persen dalam sepekan hingga ke level US$ 88,58 per barel.

Baca Juga: 5 Makanan yang Aman bagi Penderita Diabetes

Berikut rangkuman terbaru perang AS dengan Iran hingga Rabu, 26 Agustus 2026.

1. Harga Minyak Dunia Anjlok 3 Persen

Harga minyak turun hingga lebih dari 3% pada perdagangan hari Selasa (25/8).

Baca Juga: 3 Kecamatan di Palembang Mulai Krisis Air Imbas Kemarau Panjang

Kondisi ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) memilih menggunakan tekanan ekonomi dan sanksi terhadap Iran ketimbang melakukan serangan militer.

Harga minyak Brent turun 3,9% menjadi US$ 88,58 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,1% menjadi US$ 82,36 per barel.

Dengan penurunan tersebut, harga minyak telah merosot lebih dari 5% sepanjang pekan ini.

Baca Juga: 10 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Siang Sampai Malam Hari Ini

Penurunan terjadi setelah pemerintah AS mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran dan pihak-pihak yang masih melakukan perdagangan dengan negara tersebut.

Penurunan harga minyak mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang besar kembali pecah antara AS dan Iran.

Investor melihat pergeseran strategi AS sebagai tanda bahwa risiko gangguan pasokan minyak di kawasan tersebut mulai mereda sementara. Gedung Putih menyebut langkah tersebut sebagai 'economic D-Day'.

Baca Juga: Bansos BPNT Rp600000 Tahap 3 Agustus 2026 Cair, Cek Status Pencairannya di Sini

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai serangan finansial terbesar yang pernah ada.

Bessent mengatakan peningkatan tekanan ekonomi membuat kemungkinan AS kembali melancarkan perang berskala besar terhadap Iran untuk sementara menjadi lebih kecil.

2. Iran Oman Gelar Pertemuan Bahas Selat Hormuz Abaikan Ancaman Trump

Baca Juga: Ratu Dewa Minta Plt Kadishub Atasi Kemacetan di Palembang Turun 40 Persen dalam 90 Hari

Sementara itu, Iran kembali dilapokan menggelar pembicaraan dengan Oman guna mengelola lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyusul konflik bersenjata yang belum mereda.

Dalam pertemuan pada Selasa (25/8/2026), kedua negara membahas pembentukan koridor navigasi sementara bersama.

Baca Juga: Dimasukkan ke Grup Telegram, Warga Palembang Tergiur Trading hingga Rugi Rp30 Juta

Muscat dan Teheran juga sepakat untuk membersihkan jalur strategis tersebut dari ranjau laut.

3. Kemungkinan Serangan Militer Masih Terbuka

Meski demikian, AS belum sepenuhnya menutup kemungkinan serangan militer.

Baca Juga: Walhi Sumsel Temukan 1.091 Hotspot di Wilayah Konsesi Perusahaan, 542 Titik Berada di Gambut

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan opsi serangan tetap tersedia jika diperlukan.

Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi saat ini merupakan cara yang paling menyakitkan bagi pemerintah Iran, tetapi AS tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz maupun di sekitar Iran. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.