Rupiah Ditutup Melemah hingga Tembus Rp17850 per Dolar AS, BI Ungkap Biang Keroknya

AKURAT. CO SUMSEL - Nilai tukar rupiah kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (22/9/2026).
Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,14 persen ke level Rp17.850 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini terjadi saat pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Baca Juga: Jadi Badut di Lampu Merah, 2 Pria di Palembang Ternyata Diduga Bobol 11 Minimarket
Pelemahan nilai tukar rupiah terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, kurs rupiah terpuruk ke level Rp17.783 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin pagi.
Pelemahan rupiah kemudian berlanjut pada penutupan perdagangan Senin sore.
Baca Juga: Usai Bobol Rumah Warga Palembang, Pelaku Malah Kirim Pesan Facebook ke Korban
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 89 poin atau 0,50 persen.
Kurs rupiah jatuh menjadi Rp17.847 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.758 per dolar AS.
Kemudian pada Selasa pagi, nilai tukar rupiah kian melemah hingga terkoreksi lagi 32 poin atau 0,18 persen.
Baca Juga: Realme 16 Pro Harry Potter Edition, Logo Hogwarts Bisa Berubah Warna Saat Terkena Sinar UV
Akibatnya, kurs rupiah melorot ke level Rp17.879 per dolar AS saat transaksi dibuka di pasar spot, Selasa pagi.
Kurs rupiah melemah dibandingkan kurs pada penutupan sebelumnya di level Rp17.847 per dolar AS.
Bank Indonesia pun buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi sejak awal pekan.
Baca Juga: Jadwal SKD Sekolah Kedinasan 2026: Ada 4 Sesi, Peserta Wajib Datang Lebih Awal
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$ 100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.
Meski pemicunya dari eksternal, ia menyebut masalah itu dilihat pelaku pasar keuangan dapat memberikan efek ke dalam negeri, mulai dari meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.
Di tengah situasi itu, Erwin memastikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.
Baca Juga: Cek Harga Emas Perhiasan di Palembang Selasa 22 September 2026, Naik atau Turun?
Di sisi lain, BI akan melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market, serta memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.
Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga akan terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1PKH, BPNT, hingga Beras 30 Kg Siap Cair September 2026, Bagaimana BLT Kesra?
- 2BMKG Prediksi Seluruh Sumsel Berpotensi Hujan Besok, Palembang Termasuk
- 3Daftar Tanggal Merah 2027: Ada Potensi Libur Panjang hingga 10 Hari Berturut-turut
- 4Ramalan 5 Zodiak Hari Ini, Senin 21 September 2026: Ada Peluang Asmara hingga Karier
- 5Harga Emas Perhiasan Palembang Naik Tipis Hari Ini Usai Sepekan Stagnan
- 6Kronologi PNS Inspektorat OKI Ditusuk Istri hingga Tewas, Bayi 6 Bulan Ikut Terluka
- 7HP Realme 16 Pro Edisi Harry Potter Rilis di Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya
- 85 Fakta Menarik Film Istimewa, Sejarah Baru Layar Lebar Indonesia dengan Tema Inklusivitas
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








