Permintaan Tinggi dari Eropa, Ekspor Paha Kodok Sumsel Masih Terkendala

AKURAT.CO SUMSEL Komoditas ekspor unik asal Sumatera Selatan (Sumsel) mulai dilirik pasar internasional, salah satunya adalah paha kodok atau kaki katak.
Produk ini ternyata memiliki permintaan tinggi, khususnya dari negara-negara Eropa seperti Belgia. Namun sayangnya, potensi ekonomi ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Menurut Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sumsel, Sri Endah Ekandari, masih terdapat sejumlah hambatan yang membuat pengiriman paha kodok ke luar negeri belum optimal. Salah satunya adalah keterbatasan kuota tangkap di daerah persawahan, yang menjadi habitat utama jenis kodok yang diekspor.
“Permintaan tinggi, tapi kemampuan menangkapnya terbatas. Selain karena keterbatasan area, juga karena sumber daya manusianya terbatas,” ujarnya, Jumat (11/7/2025).
Berdasarkan catatan BKHIT, permintaan ekspor dari negara seperti Belgia cukup besar.
Bahkan pada Desember 2023 lalu, nilai ekspor paha kodok dari Sumsel sempat menembus angka Rp2,3 miliar dengan volume pengiriman mencapai 17 ribu kilogram untuk produk beku.
Baca Juga: Baru Kenal 3 Hari Lewat Instagram, Siswi SMA di Palembang Diduga Dirudapaksa Teman Medsos
Namun, volume tersebut belum mampu konsisten dipertahankan karena masalah pasokan bahan baku.
Komoditas ini sebagian besar berasal dari kawasan persawahan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), daerah yang dikenal sebagai habitat kodok sawah. Jenis inilah yang banyak diminati pasar luar negeri untuk kebutuhan kuliner.
Meski begitu, Endah menekankan bahwa pihaknya hanya berwenang dalam urusan teknis ekspor, seperti pengawasan kualitas, pemeriksaan standar, dan sertifikasi. Tantangan utama, menurutnya, justru terletak pada belum terbentuknya ekosistem ekspor yang solid di tingkat daerah.
“Ekspor itu bukan hanya urusan karantina. Dibutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari pemerintah daerah dan dinas terkait,” jelasnya.
Ia berharap ada langkah strategis yang bisa mendorong pembentukan rantai pasok dan ekosistem yang berkelanjutan, agar komoditas ekspor seperti paha kodok tak hanya sesaat, tapi bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah.
“Sumsel punya potensi besar, tinggal bagaimana potensi ini dimaksimalkan dengan kolaborasi dan kebijakan yang mendukung,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Desil 1- 4 Dapat Bansos Apa Saja September 2026? Cek Daftarnya di Sini
- 2Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell dan BP Rabu 16 September 2026
- 3PLN Palembang Jadwalkan Pemadaman Listrik Besok Jumat 18 September 2026, Cek Daftar Wilayah Terdampak
- 4BMKG Prediksi 16 Daerah Sumsel Dilanda Hujan Besok, Sebagian Sejak Pagi Sampai Malam
- 510 Daerah di Sumsel Dilanda Hujan Sore Ini, Sebagian Disertai Petir
- 6Cek Bansos Kemensos, Bantuan Beras 30 Kg September 2026 Siap Disalurkan
- 75 Ramalan Zodiak Hari Ini: Ada Peluang Baru hingga Kabar Tak Terduga
- 8Bansos BPNT Masuk Penyaluran Tahap 3 September 2026, Cek Status Pencairannya di Sini
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









