Sumsel

BBM, Cabai, dan Bawang Merah Kompak Turun, Sumsel Alami Deflasi 0,24 Persen

Kurnia | 4 Agustus 2026, 11:00 WIB
BBM, Cabai, dan Bawang Merah Kompak Turun, Sumsel Alami Deflasi 0,24 Persen
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026.

Angka tersebut lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang berada di level 0,14 persen, didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama seperti bahan bakar minyak (BBM), cabai, bawang merah, tomat, hingga emas perhiasan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa turunnya harga berbagai komoditas menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi di provinsi tersebut selama Juli.

Menurutnya, kelompok energi memberikan kontribusi cukup besar terhadap deflasi. Beberapa jenis BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga yang signifikan.

Harga Dexlite turun menjadi Rp20.160 per liter dari sebelumnya Rp23.500, Pertamina Dex turun menjadi Rp21.650 dari Rp25.350 per liter, sedangkan Pertamax Turbo turun menjadi Rp19.750 dari Rp21.500 per liter.

Di sisi lain, harga Pertamax justru mengalami kenaikan menjadi Rp16.650 per liter dari Rp15.300.

Tidak hanya BBM, harga emas perhiasan juga melemah sepanjang Juli. Pergerakan harga emas yang fluktuatif berada pada kisaran Rp2,60 juta hingga Rp2,67 juta turut memberi andil terhadap deflasi bulanan.

Baca Juga: Deretan Fenomena Langit Agustus 2026, Parade Planet, Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari Total

Sementara itu, dari kelompok pangan, harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan tomat tercatat mengalami penurunan.

Kondisi tersebut dipengaruhi melimpahnya pasokan dari sentra produksi di Sumatera Selatan maupun daerah pemasok dari luar provinsi sehingga stok di pasaran tetap terjaga.

Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Beras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi karena mengalami kenaikan harga di tingkat petani hingga distributor.

Selain faktor pangan, dimulainya tahun ajaran baru juga ikut mendorong kenaikan pengeluaran masyarakat.

Biaya pendidikan, mulai dari pembelian seragam, buku tulis, hingga kebutuhan sekolah lainnya, terutama untuk jenjang taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD), mengalami peningkatan selama Juli.

Secara tahunan (year on year/yoy), Sumatera Selatan masih mencatat inflasi sebesar 2,50 persen.

Komoditas yang paling banyak menyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, bensin, dan minyak goreng.

BPS juga mencatat adanya perbedaan kondisi harga di empat wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumsel.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi, sedangkan Kota Lubuklinggau mencatat deflasi.

Menurut BPS, stabilitas harga di Sumatera Selatan tidak terlepas dari berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah, seperti pelaksanaan pasar murah, penguatan distribusi, dan menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok di pasaran.

Dengan tren penurunan harga sejumlah komoditas strategis tersebut, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga meski terdapat kenaikan pengeluaran pada sektor pendidikan menjelang dimulainya tahun ajaran baru.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia