DKPP Sumsel Jelaskan Perhitungan Keuntungan Industri Penggilingan Padi

AKURAT.CO SUMSEL Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Selatan, Ruzuan Efendi, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai keuntungan penggilingan padi yang bisa mencapai Rp2 triliun per bulan saat musim panen sulit terjadi dalam praktik usaha.
"Perusahaan penggilingan padi berskala besar memang mampu memperoleh keuntungan yang tinggi. Namun, berdasarkan perhitungan bisnis di lapangan, nilainya masih jauh di bawah angka triliunan rupiah setiap bulan," katanya, Rabu (29/7/2026).
Ia memberikan ilustrasi menggunakan salah satu perusahaan penggilingan padi yang mampu memasarkan sekitar 100 ribu ton beras dalam sebulan atau setara 100 juta kilogram.
Jika keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp1.000 per kilogram, maka laba perusahaan diperkirakan mencapai sekitar Rp100 miliar dalam satu bulan.
"Kalau margin keuntungannya Rp1.000 per kilogram, hasilnya sekitar Rp100 miliar. Jadi angkanya masih jauh dari Rp2 triliun," kata Ruzuan, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Karhutla Masih Mengancam Sumsel, Manggala Agni Berjibaku Padamkan Api di Enam Titik
Ruzuan menjelaskan, besarnya keuntungan industri penggilingan padi ditentukan oleh harga pembelian gabah dan tingkat rendemen atau hasil beras yang diperoleh dari proses penggilingan.
Sebagai contoh, apabila gabah dibeli seharga Rp7.500 per kilogram dengan rendemen sekitar 50 persen, maka harga jual beras untuk mencapai titik impas berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
Sementara harga jual beras saat ini berada di bawah angka tersebut sehingga ruang keuntungan dinilai tidak terlalu besar.
Ia juga menilai perusahaan tidak mungkin memperoleh laba bersih Rp10.000 per kilogram agar keuntungan bulanan bisa mencapai Rp1 triliun dengan volume penjualan 100 juta kilogram. Menurutnya, margin sebesar itu tidak realistis dalam kondisi pasar saat ini.
Di Sumatera Selatan, terdapat lebih dari 10 perusahaan penggilingan padi berskala besar yang memiliki kapasitas produksi dan jaringan distribusi luas.
Meski demikian, Ruzuan menduga pernyataan Presiden Prabowo dimaksudkan sebagai peringatan kepada pelaku usaha agar tidak menaikkan harga beras secara berlebihan di tengah mulai menurunnya produksi akibat musim kemarau.
"Meskipun produksi beras mengalami penurunan karena faktor cuaca, ketersediaan stok beras di Sumatera Selatan hingga kini masih dalam kondisi aman dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 4 Oktober 2026 Segera Berakhir, Bagaimana BLT Kesra?
- 2Penyaluran Bansos Tahap 4 Oktober 2026 Berakhir Besok, Ini Tanda Bantuan Cair dan Masuk Rekening
- 3Sumsel Bakal Dilanda Hujan Deras Sepanjang Hari Besok, Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
- 4Hari Ini 28 Oktober 2026 Libur atau Tidak? Cek Ketentuan SKB 3 Menteri
- 5Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di India, Ini Spesifikasi dan Harganya
- 6Lantik 23 Pejabat Pemkot Palembang, Ratu Dewa Tekankan Kinerja dan Pelayanan Publik
- 7Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Ditutup 31 Oktober, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
- 8Harga Emas Perhiasan Palembang Hari Ini Masih Stagnan, Saatnya Beli?
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







