Sumsel

Dinkes Sumsel Waspadai Flu Singapura, 523 Anak Masuk Kategori Suspek

Kurnia | 22 Juni 2026, 18:15 WIB
Dinkes Sumsel Waspadai Flu Singapura, 523 Anak Masuk Kategori Suspek
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 523 kasus suspek Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura selama periode minggu pertama hingga minggu ke-23 tahun 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang menyerang anak-anak dan memiliki pola kemunculan musiman.

Menurutnya, penyakit tersebut disebabkan oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71, sehingga tidak berkaitan dengan negara Singapura maupun penyakit influenza seperti yang selama ini banyak dipahami masyarakat.

"HFMD merupakan penyakit infeksi virus yang mudah menular dan biasanya meningkat pada periode tertentu dalam setahun," ujar Ira, Senin (22/6/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan kasus umumnya terjadi saat masa peralihan musim serta pada puncak musim kemarau. Pada periode tersebut, anak-anak cenderung lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan sehingga risiko penularan menjadi lebih tinggi.

Baca Juga: Hitungan Menit Setelah Diparkir, Honda CRF Milik Karyawan di Palembang Digondol Maling

Penularan HFMD dapat terjadi melalui percikan air liur (droplet), kontak dengan cairan lepuhan kulit, maupun melalui feses penderita.

itu, lingkungan yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak seperti sekolah, tempat kursus, dan arena bermain indoor menjadi lokasi yang berisiko terhadap penyebaran penyakit.

Dinkes Sumsel menilai kondisi iklim tropis yang panas dan lembap, tingginya interaksi antar anak, serta kebiasaan menjaga kebersihan yang belum optimal menjadi faktor yang mendukung penyebaran HFMD di wilayah Sumsel.

"Jika ada satu anak yang terinfeksi dalam satu kelas, maka risiko penularan kepada teman-teman sekelasnya cukup tinggi," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, Kota Palembang menjadi daerah dengan jumlah suspek tertinggi, yakni 102 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dengan 75 kasus, Musi Banyuasin 61 kasus, Kota Prabumulih 58 kasus, serta Kabupaten Lahat dan Muara Enim yang masing-masing mencatat 54 kasus.

Sementara itu, beberapa daerah mencatat jumlah kasus yang relatif rendah. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) hanya melaporkan satu kasus suspek, sedangkan Musi Rawas Utara, OKU Timur, dan Empat Lawang masing-masing mencatat tiga kasus.

Dari sisi gejala, HFMD umumnya diawali dengan demam, tubuh lemas, serta muncul sariawan di rongga mulut. Dalam perkembangannya, penderita dapat mengalami ruam atau bintik berisi cairan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, maupun bagian tubuh lainnya.

Dinkes Sumsel mengingatkan masyarakat agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala berat seperti kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran karena kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Untuk menekan penyebaran penyakit, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk membiasakan cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, tidak berbagi barang pribadi, menerapkan etika batuk yang benar, serta memastikan anak mendapatkan asupan gizi seimbang dan waktu istirahat yang cukup.

Dinkes Sumsel juga meminta pihak sekolah dan orang tua meningkatkan kewaspadaan apabila menemukan anak dengan gejala HFMD agar penularan dapat dicegah sejak dini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia