Pemprov Sumsel Antisipasi Inflasi, Elen Setiadi Ingatkan Bahaya Deflasi Terlalu Dalam

AKURAT.CO SUMSEL Angka inflasi di Sumatera Selatan (Sumsel) menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada beberapa daerah, di mana harga sejumlah kebutuhan pokok tercatat mengalami kenaikan.
Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), ada empat daerah di Sumsel yang mencatatkan angka inflasi yang lebih tinggi, yaitu Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, Palembang, dan Lubuklinggau.
Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi, menyatakan bahwa kondisi ini perlu diwaspadai, terutama mengingat tren inflasi yang mulai terlihat setelah empat bulan berturut-turut mengalami deflasi dari Juni hingga September 2024.
"Kami mencatat adanya peningkatan angka inflasi berdasarkan data yang ada. Tren inflasi mulai terlihat di Sumsel, baik dari laporan month-to-month maupun year-on-year," ujar Elen, Selasa (12/11/2024).
Dari data yang ada, inflasi tertinggi secara tahunan terjadi di Kabupaten OKI dengan angka 1,445%, disusul Muara Enim 1,13%, Palembang 1,01%, dan Lubuklinggau 0,89%.
"Palembang, yang mencakup hampir 20% dari total populasi Sumsel yang berjumlah 8,8 juta jiwa, mengalami inflasi sekitar satu persen. Oleh karena itu, jika pengendalian inflasi di Palembang dan Lubuklinggau bisa dilakukan dengan baik, maka pengendalian inflasi di Sumsel secara keseluruhan bisa tercapai," lanjut Elen.
Elen mengungkapkan bahwa inflasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kewenangan pemerintah dalam penetapan harga atau administrator price, serta fluktuasi harga bahan makanan (volatile food).
Beberapa komoditas yang mempengaruhi inflasi di daerah kabupaten/kota di Sumsel antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, tomat, jeruk, dan bawang merah.
Sementara itu, di Lubuklinggau, komoditas yang mempengaruhi inflasi di antaranya adalah daging ayam, bawang merah, tomat, emas perhiasan, dan kopi bubuk.
Sebagai upaya pengendalian inflasi, Elen mengatakan bahwa Pemprov Sumsel, bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), akan terus menjaga kestabilan harga dengan memperhatikan distribusi pasokan dan ketersediaan stok barang di pasar.
"Walaupun inflasi perlu diwaspadai, kami juga mengingatkan bahwa deflasi yang terlalu dalam dapat memberikan dampak buruk bagi perekonomian. Penurunan yang berlebihan justru akan menghambat daya beli masyarakat, yang pada akhirnya berdampak pada sektor konsumsi rumah tangga sebagai penyokong utama perekonomian," jelas Elen. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sumsel Bakal Dilanda Hujan Deras Sepanjang Hari Besok, Masyarakat Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem
- 2Cek Harga Emas Perhiasan Palembang Senin 2 November 2026, Naik atau Turun?
- 3PLN Palembang Jadwalkan Pemadaman Listrik 2 Kali Hari Ini, Cek Lokasi Terdampaknya
- 4BSU Kemnaker Cair November 2026, Cek Syarat Penerima dan Besaran Bantuan
- 5Daftar 28 Perusahaan dalam Job Fair Sumsel 2026, Ada Ritel Sampai Keuangan
- 6Harga Emas Perhiasan Palembang Anjlok Hari Ini, Termurah Tembus Rp13,5 Juta per Suku
- 7Kapan BSU Kemnaker 2026 Cair? Cek Jadwal dan Besaran Bantuannya di Sini
- 8Ramalan Zodiak Hari Ini 31 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuanganmu?
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









