Sumsel

Lonjakan Kasus DBD di Sumsel: Palembang Tembus 131 Kasus, 3 Warga Meninggal

Ali Rofi | 30 Januari 2024, 17:20 WIB
Lonjakan Kasus DBD di Sumsel: Palembang Tembus 131 Kasus, 3 Warga Meninggal

AKURAT.CO SUMSEL Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumsel pada Januari 2024 mencapai 761 kasus, dengan 7 orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumsel, Muyono, mengungkapkan bahwa data kasus DBD yang masuk ke Dinkes Sumsel menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

"Pada awal tahun ini, kasus DBD di Sumsel mencapai 761, mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan Desember 2023 yang mencatat 499 kasus, dengan Palembang sebagai kota dengan jumlah kasus terbanyak, yaitu 131 kasus," ujarnya saat diwawancarai, Senin (30/1/2024).

Dari total kasus tersebut, sebanyak 761 kasus tersebar di beberapa wilayah, antara lain Mura Enim (43 kasus), Lahat (31 kasus), Prabumulih (74 kasus), OKU (31 kasus), OKI (11 kasus), Musi Rawas (13 kasus), dan Palembang (131 kasus).

Kemudian, Musi Banyuasin (105 kasus), Banyuasin (25 kasus), OKU Selatan (37 kasus), OKU Timur (31 kasus), Ogan Ilir (99 kasus), Empat Lawang (9 kasus), Pagaralam (16 kasus), Lubuklinggau (11 kasus), Pali (17 kasus), dan Muratara (15 kasus).

"Jumlah kematian akibat DBD tercatat di Banyuasin (2 orang), OKU Selatan (2 orang), dan Palembang (3 orang)," jelasnya.

Langkah Pencegahan 

Dinkes Sumsel juga telah memberikan bantuan ke seluruh kabupaten/kota di Sumsel, meliputi Zeta Sipermethrin sebanyak 1.800 liter, Temegard sebanyak 49.500 sachet, Abate sebanyak 5.400 kilogram, dan RDT DBD Combo sebanyak 500 box.

"Selain itu, kita juga sudah memberikan bantuan fogging, meskipun fogging ini tidak terlalu efektif dalam membasmi DBD karena hanya membunuh nyamuk besar," tambahnya.

Muyono menjelaskan bahwa perubahan iklim dari musim kemarau ke musim hujan menjadi salah satu penyebab peningkatan kasus DBD. Selain itu, tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti juga menjadi faktor penting.

"Nyamuk Aedes Aegypti ini berkembang di air yang tidak bersentuhan dengan tanah, seperti tempat penampungan air dan dedaunan," terangnya.

Dinkes Sumsel telah mengeluarkan dua kali surat edaran kepada kabupaten/kota dalam mengantisipasi peningkatan kasus DBD.

"Kita sudah memberikan surat edaran dua kali kepada dinkes kab/kota untuk mengantisipasi DBD," pungkasnya.

Muyono menambahkan bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras bak mandi, menutup rapat tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk adalah langkah efektif untuk mengendalikan vektor DBD. 

"Juga untuk masyarakat untuk bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal," tutupnya. (kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Ali Rofi
A