Sumsel

Kembali Meletus, Ini Catatan Riwayat Erupsi Gunung Marapi di Sumbar

Deni Hermawan | 4 Desember 2023, 12:19 WIB
Kembali Meletus, Ini Catatan Riwayat Erupsi Gunung Marapi di Sumbar

AKURAT.CO SUMSEL Gunung Marapi, yang berlokasi di wilayah administrasi Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatra Barat, mengalami letusan pada hari Minggu (3/12/2023) sekitar pukul 14.54 WIB.

Letusan ini terjadi pada gunung berapi dengan ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut.

Letusan juga ditandai dengan keluarnya kolom abu yang mengandung material vulkanik hingga ketinggian 3.000 meter dari puncak kawah, disertai suara gemuruh yang menggema.

Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam eerupsi Gunung Marapi dengan amplitudo maksimum sebesar 30 mm dan durasi selama 4 menit 41 detik melalui rekaman seismogram.

Gunung Marapi telah memiliki sejarah letusan yang dapat ditelusuri kembali dalam catatan sejarah. Letusan pertamanya telah tercatat sejak abad ke-18. 

Riwayat Letusan Gunung Marapi:

1807-1822: Letusan tercatat dalam periode ini.Terjadi kepulan asap hitam kelabu, disusul oleh aliran lava dengan sinar api merah tua. Dilanjutkan dengan awan debu dan asap selama setengah hari serta sinar api hingga hari berikutnya.

1833-1834: Beberapa letusan kecil tercatat.

1845: Terdengar gemuruh dari dalam bumi dengan api besar terlihat.

1854: Letusan abu berlangsung beberapa hari.

1855: Gempa bumi terasa dengan tiang asap dan suara gemuruh berkelanjutan.

1856: Pada Januari, terlihat pancaran api.

1861: Aktivitas meningkat pada bulan April.

1863: Terjadi letusan.

1871: Pada 24 April, hujan abu menuju ke Bukittinggi.

1876: Awan besar dan bongkah laca muntahkan sejauh 280 m.

1878: Desember, suara gemuruh terdengar selama 10 menit.

1883: Letusan abu pada Juni, Agustus, dan erupsi kecil pada Desember.

1885: Tanggal 12 November, terlihat tiang asap.

1886: Pada 31 Maret, suara gemuruh lima kali, diikuti letusan abu dan pasir.

1888: Letusan abu dan batu pijar hingga tengah malam.

1889, 1904, 1905, 1908, 1910, 1911, 1913: Aktivitas tercatat, meski detailnya kurang jelas.

1916: Gemuruh, ledakan kecil, dan hujan abu terjadi.

1919: Ledakan dan awan abu terlihat.

1925: Sumbat lava hitam terlihat di dasar kawah.

1927: Suara letusan dengan asap berbentuk kembang kol.

1929: Letusan abu dan lava pijar terlempar.

1930: Lava terlihat di rekahan kawah.

1932: Letusan terjadi.

1949: Letusan abu dimulai dengan gempa bumi.

1951: Letusan abu dari Kepundan Bungsu.

1952: Asap berbentuk kol kembang setinggi 2000-3000 m diikuti hujan abu.

1955-1958, 1967, 1970: Aktivitas meningkat.

1971: Letusan abu di Kepundan B dan C.

1972: Peningkatan aktivitas solfatara di Kawah B dan C dan Bungsu.

1973: Letusan gas asap di Kawah Verbeek.

1975: Letusan eksplosif dengan suara gemuruh dan material pijar dari kawah Verbeek.

1977: Letusan dari kawah Verbeek.

1978: Letusan eksplosif di kawah Verbeek.

1980: Letusan eksplosif disertai suara gemuruh.

1984: Letusan di Kawah Tuo.

1987: Letusan eksplosif.

1988-1990: Rentetan letusan eksplosif dengan gemuruh dan sinar api.

2005: Letusan abu hampir setiap hari pada Oktober.

2017: Terjadi letusan.

2023: Kembali mengalami erupsi dan letusan  

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
A