Sumsel

Dinkes Palembang Catat 346 Kasus HIV/AIDS, Remaja Diimbau Tidak Seks Bebas

Maman Suparman | 28 Oktober 2025, 22:00 WIB
Dinkes Palembang Catat 346 Kasus HIV/AIDS, Remaja Diimbau Tidak Seks Bebas

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mencatat penurunan signifikan kasus HIV/AIDS sepanjang tahun 2025. Meski demikian, pemerintah tetap menyoroti gaya hidup berisiko di kalangan muda yang dinilai menjadi ancaman serius terhadap upaya pengendalian penyakit tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudhi Setiawan, mengatakan pihaknya menangani 346 kasus HIV/AIDS sejak Januari hingga September 2025. Rinciannya, 261 kasus HIV dan 85 kasus AIDS.

“Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 547 kasus,” ujar Yudhi, Selasa (28/10/2025).

Menurut Yudhi, penurunan jumlah kasus tidak boleh membuat masyarakat lengah. Ia menegaskan, penyakit HIV/AIDS masih berpotensi meningkat jika perilaku seks bebas dan penggunaan jarum suntik tidak steril terus terjadi di masyarakat, terutama di kalangan remaja dan kelompok usia produktif.

Baca Juga: Terekam CCTV, Pencuri Meteran Air di Palembang Beraksi Santai, Viral di Medsos

“HIV/AIDS ini bukan penyakit keturunan atau akibat makanan, tapi berawal dari perilaku. Salah satunya seks bebas. Jadi yang paling penting adalah pencegahan lewat kesadaran diri,” tegasnya.

Untuk mencegah penularan lebih luas, Dinkes Palembang terus menggencarkan sosialisasi bahaya HIV/AIDS di sekolah dan lingkungan masyarakat. Edukasi dilakukan agar masyarakat memahami cara penularan dan pencegahan sejak dini.

“Kami turun langsung ke sekolah, kampus, dan komunitas remaja. Tujuannya agar mereka tahu bagaimana menjaga diri dan tidak terjebak perilaku berisiko,” katanya.

Yudhi menambahkan, tingkat penularan HIV/AIDS di Palembang masih didominasi kelompok usia produktif, yakni 20–35 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek medis, tapi juga sosial dan moral.

“Kalau kita bicara pencegahan, itu bukan cuma soal pengobatan atau alat tes. Tapi soal kesadaran dan pola hidup sehat. Jangan menunggu sakit untuk berubah,” ujarnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia