Sumsel

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Terjadi di Sumsel hingga Awal April, Waspada Cuaca Ekstrem

Maman Suparman | 22 Maret 2025, 18:00 WIB
BMKG: Hujan Masih Berpotensi Terjadi di Sumsel hingga Awal April, Waspada Cuaca Ekstrem

AKURAT.CO SUMSEL Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan mengguyur sebagian besar wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) hingga awal April 2025.

Masyarakat dan pihak terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.

"Sumsel masih berada dalam musim hujan dengan potensi curah hujan yang tetap tinggi hingga akhir Maret 2025. Masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana seperti perbukitan dan daerah aliran sungai (DAS), harus meningkatkan kewaspadaan," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, Sabtu (22/3/2025).

BMKG memprediksi 70 persen wilayah pesisir dan DAS di Sumsel akan mengalami hujan dengan intensitas sedang, sekitar 50-150 mm. Sementara itu, daerah perbukitan seperti Empat Lawang, Lahat bagian barat, dan Pagar Alam bagian utara diperkirakan mengalami curah hujan lebih rendah, sekitar 50 mm.

Baca Juga: Willie Salim Klarifikasi Soal Rendang Hilang: Saya Tidak Rekayasa Apa Pun

Di sisi lain, wilayah Banyuasin bagian selatan dan Palembang bagian utara berpotensi mengalami curah hujan tinggi hingga 150-300 mm dengan peluang mencapai 20 persen.

Pemantauan BMKG terhadap Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Sumsel masih mengalami hujan dengan intensitas bervariasi. HTH kategori sangat pendek (1-5 hari) terjadi di bagian tengah dan timur Sumsel, sementara wilayah Ogan Ilir mengalami HTH kategori menengah (11-20 hari).

"Khusus di Pos Hujan AWS SMPK Ogan Ilir, terpantau HTH terpanjang mencapai 11 hari," tambah Wandayantolis.

Faktor cuaca saat ini dipengaruhi oleh kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD)** yang berada dalam kategori netral. Selain itu, aliran udara di sebagian besar Indonesia didominasi angin baratan, dengan pola belokan dan pertemuan angin terjadi di sekitar garis ekuator, Laut Jawa, dan Laut Banda.

"Angin Australia mulai masuk ke Indonesia, memicu belokan angin, sementara MJO aktif dari fase 2 ke fase 4 pada akhir Maret 2025," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia