Sumsel

Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari Jika AS Cabut Blokade

Septiyanti Dwi Cahyani | 23 September 2026, 11:14 WIB
Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari Jika AS Cabut Blokade
Sejumlah kapal dagang milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran, pada 10 September 2026. ANTARA/Fatemeh Bahrami - Anadolu Agency

AKURAT. CO SUMSEL - Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru.

Iran dilaporkan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Amerika Serikat melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pernyataan itu diungkap seorang pejabat senior Iran yang dikutip secara terpisah oleh kantor berita Reuters dan Kyodo News dari Jepang.

Baca Juga: Asap Karhutla Mengancam Kesehatan, 174 Ribu Kasus ISPA Tercatat di Tujuh Provinsi

Dia menjelaskan Teheran akan menyambut baik pemulihan diplomasi jika Washington mengambil langkah-langkah nyata.

Namun, tidak jelas apakah pejabat senior Iran yang berbicara kepada kedua kantor berita tersebut adalah orang yang sama.

Sementara itu, lalu lintas kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan turun drastis hingga hanya tinggal dua kapal pada Senin (21/9/2026) dari 10 kapal sehari sebelumnya berdasarkan data awal pelayaran yang dihimpun Kpler.

Baca Juga: 7 Tips Menanam Sayuran Hidroponik di Rumah, Cocok untuk Pemula dan Lahan Sempit

Penurunan tersebut membuktikan masih tingginya tekanan terhadap jalur perdagangan strategis yang menjadi salah satu pintu utama pengiriman energi dunia.

Data Kpler menunjukkan dua kapal yang melintas tersebut terdiri atas kapal Supramax berbendera Panama yang mengangkut mineral dan kapal curah berbendera Liberia.

Sebelum konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz rata-rata dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar per hari, termasuk kapal tanker, pengangkut gas, kapal curah, dan kapal kontainer.

Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Skuad Garuda Hadapi 3 Laga

Jalur tersebut juga menjadi salah satu rute utama perdagangan energi global dengan sekitar 20% pasokan minyak mentah dan LNG dunia melintas melaluinya.

Tekanan terhadap pelayaran semakin terlihat setelah sebuah kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut LPG dilaporkan diserang dalam dua insiden terpisah.

Kapal tanker minyak mentah LR Stephanie berbendera Isle of Man terkena proyektil tak dikenal ketika memasuki selat pada Senin dan menyebabkan dua awak mengalami luka ringan, sementara kapal tanker LPG Al Maryah berbendera Liberia diserang ketika keluar dari selat pada Minggu.

Baca Juga: Daftar Harga BBM Pertamina, Vivo, Shell dan BP Rabu Berlaku 23 September 2026

Meski mengalami serangan, kedua kapal tersebut tetap dapat melanjutkan pelayaran tanpa bantuan penarik.

Penurunan lalu lintas yang terus terjadi di Selat Hormuz menjadi perhatian bagi pasar energi dan perdagangan global karena gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak dan gas serta meningkatkan risiko terhadap rantai pasok internasional. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.