Sumsel

Cuaca Panas Ekstrem Bisa Berbahaya bagi Lansia, Ini 5 Risiko yang Perlu Diwaspadai

Kurnia | 25 September 2026, 12:00 WIB
Cuaca Panas Ekstrem Bisa Berbahaya bagi Lansia, Ini 5 Risiko yang Perlu Diwaspadai

AKURAT.CO SUMSEL Cuaca panas yang berlangsung dalam waktu lama bukan sekadar membuat tubuh merasa gerah.

Bagi orang lanjut usia (lansia), paparan suhu tinggi justru dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama jika mereka memiliki penyakit tertentu atau rutin mengonsumsi obat.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri dengan perubahan suhu ikut menurun. Tubuh juga tidak selalu memberikan sinyal haus atau kepanasan secepat ketika masih muda.

Kondisi tersebut membuat lansia lebih rentan mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas hingga heatstroke. Bahkan, suhu ekstrem dapat memperberat gangguan pada jantung dan ginjal.

Lantas, apa saja bahaya cuaca panas bagi lansia yang perlu diperhatikan?

1. Kemampuan tubuh mendinginkan diri menurun

Tubuh biasanya menurunkan suhu melalui produksi keringat. Ketika keringat menguap dari permukaan kulit, panas tubuh ikut dilepaskan.

Namun, kemampuan berkeringat dapat berkurang seiring usia. Akibatnya, tubuh lansia bisa lebih sulit mengeluarkan panas ketika berada dalam lingkungan bersuhu tinggi.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, lansia dapat mengalami heat exhaustion.

Gejalanya antara lain tubuh lemas, pusing, sakit kepala, mual dan denyut jantung meningkat.

Tanpa penanganan, kondisi akibat panas tersebut dapat berkembang menjadi heatstroke.

Ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera karena suhu tubuh dapat meningkat secara berbahaya dan berpotensi menyebabkan kerusakan organ.

Beberapa jenis obat yang umum digunakan lansia juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu. Karena itu, lansia yang rutin mengonsumsi obat sebaiknya mengikuti petunjuk dokter, terutama ketika menghadapi cuaca panas.

2. Jantung bekerja lebih keras

Cuaca panas juga dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem kardiovaskular.

Ketika tubuh berusaha membuang panas, pembuluh darah di dekat permukaan kulit melebar sehingga aliran darah ke kulit meningkat. Jantung kemudian harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan sirkulasi darah.

Bagi lansia yang memiliki penyakit jantung, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation pada 2023 juga menemukan adanya hubungan antara gelombang panas dan peningkatan risiko serangan jantung fatal pada lansia di Provinsi Jiangsu, China.

Risikonya dapat semakin tinggi ketika suhu ekstrem terjadi bersamaan dengan kualitas udara yang buruk.

3. Dehidrasi lebih mudah terjadi

Kebutuhan cairan menjadi hal penting ketika suhu lingkungan meningkat. Tubuh kehilangan lebih banyak air melalui keringat sehingga asupan cairan perlu diperhatikan.

Masalahnya, rasa haus pada lansia dapat berkurang dibandingkan orang yang lebih muda. Akibatnya, mereka bisa saja tidak segera menyadari bahwa tubuh sudah kekurangan cairan.

Penggunaan obat tertentu juga dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan. Kondisi ini membuat lansia lebih rentan mengalami dehidrasi ketika cuaca sedang sangat panas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain mulut kering, urine berwarna lebih gelap, lebih jarang buang air kecil, tubuh lemas hingga pusing.

4. Bisa memperburuk gangguan ginjal

Dehidrasi yang tidak segera ditangani juga dapat memberikan tekanan pada fungsi ginjal.

Ketika tubuh kekurangan cairan, jumlah darah yang mengalir ke ginjal dapat berkurang. Kondisi ini berpotensi memperburuk masalah ginjal, terutama pada lansia yang sebelumnya sudah memiliki gangguan pada organ tersebut.

Karena itu, lansia perlu memperhatikan kecukupan cairan selama cuaca panas. Namun, jumlah cairan yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap orang, khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit ginjal, jantung atau kondisi medis tertentu.

Jika memiliki pembatasan asupan cairan dari dokter, sebaiknya jangan mengubah jumlah minum tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

5. Bisa memengaruhi kondisi emosional

Dampak gelombang panas tidak berhenti pada kesehatan fisik. Kondisi ini juga dapat memengaruhi aktivitas dan kesejahteraan emosional lansia.

Suhu yang terlalu tinggi membuat seseorang lebih sulit beraktivitas di luar rumah. Lansia yang harus lebih banyak berada di dalam rumah dapat mengalami kebosanan hingga merasa kesepian.

Situasinya dapat lebih rumit bagi lansia yang tinggal sendiri, memiliki keterbatasan mobilitas atau mengalami gangguan kognitif.

Mereka mungkin tidak menyadari bahwa tubuh sudah mengalami tanda-tanda kepanasan atau lupa mengikuti anjuran keselamatan saat cuaca ekstrem.

Dengan mengenali risiko sejak awal dan memberikan perhatian lebih, dampak buruk cuaca panas terhadap kesehatan lansia dapat diminimalkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia