Sumsel

Kabut Asap Kembali Pekat di Palembang, Herman Deru Pastikan Operasi Dry Ice Berlanjut

Kurnia | 20 Oktober 2026, 16:34 WIB
Kabut Asap Kembali Pekat di Palembang, Herman Deru Pastikan Operasi Dry Ice Berlanjut

AKURAT.CO SUMSEL Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang pada Selasa (20/10/2026), setelah warga sempat menikmati udara cerah selama empat hari berturut-turut.

Kondisi ini diduga diperburuk oleh stabilitas atmosfer yang membuat asap sulit menyebar.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memastikan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice tetap berlanjut untuk membantu mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat lapisan inversi setebal sekitar 300 meter yang menyebabkan udara dan polutan terperangkap di dekat permukaan tanah.

“Ini anomali dibanding kemarin-kemarin. Biar masyarakat tahu, operasi dry ice bukan berhenti. Ini lagi briefing mau diterbangkan untuk sortie pertama, kita tunggu kedatangannya yang dikirim langsung dari Jakarta,” ujar Herman Deru, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga: 8,8 Ton Dry Ice Disemai di Palembang, OMC Terus Dilakukan untuk Tekan Kabut Asap

Menurutnya, penyemaian dry ice diharapkan membantu mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat pergerakan udara. Namun, pelaksanaan operasi tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan hasil analisis para ahli.

“Kita berharap setelah ditabur, paling 15 menit reaksinya langsung terasa untuk memecah inversi 300 meter udara panas itu. Nah, itulah pendapat ahli,” katanya.

Herman Deru juga memastikan dukungan untuk operasi penanganan karhutla di Sumsel akan terus dilanjutkan. Setelah periode penanganan selama 10 hari sebelumnya didukung Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyetujui perpanjangan masa operasi.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa tingginya kelembapan udara di dekat permukaan turut memperburuk kondisi kabut asap.

Partikel asap dapat berinteraksi dengan uap air sehingga ukuran partikelnya membesar dan semakin kuat menghamburkan cahaya. Akibatnya, langit terlihat keruh dan jarak pandang dapat menurun.

Kondisi tersebut diperparah oleh kecepatan angin yang relatif lemah. Akibatnya, polutan tidak mudah terbawa angin dan bertahan lebih lama di suatu wilayah.

Siswanto mengatakan, pemantauan kondisi atmosfer dilakukan dengan memperhatikan sejumlah parameter, antara lain kelembapan udara, arah dan kecepatan angin, stabilitas atmosfer, serta konsentrasi partikel halus PM2,5 dan PM10.

Situasi berpotensi bertahan apabila tidak disertai hujan yang cukup untuk membantu membersihkan partikel asap dari atmosfer.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyebut peningkatan kepekatan asap pada Selasa pagi berkaitan dengan gangguan sesaat akibat kondisi atmosfer yang stabil.

Meski demikian, dampak karhutla tetap perlu diwaspadai. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin pekat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia