Sumsel

Sumsel Uji Coba Dry Ice Selama 10 Hari, Berharap Asap Karhutla Menipis dan Water Bombing Kembali Berjalan

Kurnia | 17 Oktober 2026, 17:40 WIB
Sumsel Uji Coba Dry Ice Selama 10 Hari, Berharap Asap Karhutla Menipis dan Water Bombing Kembali Berjalan

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menguji metode penyemaian dry ice selama 10 hari untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Uji coba ini diharapkan dapat memperbaiki jarak pandang, terutama di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, agar operasi pemadaman melalui udara bisa kembali optimal.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengatakan Sumsel menjadi daerah pertama yang menjalankan metode tersebut. Pelaksanaan dilakukan melalui kerja sama Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Alhamdulillah kita mendapatkan kontrak dari Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan BMKG untuk 10 hari ke depan pelaksanaan OMC (operasi modifikasi cuaca) dry ice,” ujar Iqbal, Sabtu (17/10/2026).

Menurutnya, pelaksanaan penyemaian akan dievaluasi setiap hari untuk melihat perkembangan dan manfaatnya terhadap kondisi atmosfer serta penanganan kabut asap.

Pemerintah berharap inovasi tersebut dapat membantu masyarakat yang terdampak kabut asap, khususnya di Palembang dan wilayah Sumsel lainnya.

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Merata di Sumsel Mulai Pertengahan November 2026

Pada tahap awal, pesawat yang digunakan dalam operasi ini membawa 800 kilogram bahan semai dalam setiap penerbangan atau sortie.

Pada Kamis (15/10/2026), penyemaian dilakukan sebanyak dua kali dengan total 1,6 ton dry ice. Sementara pada Jumat (16/10/2026), satu penerbangan telah dilaksanakan sekitar pukul 10.00 WIB.

Dengan demikian, total bahan yang telah disemai mencapai 2,4 ton. BPBD berharap penyemaian tambahan dapat dilakukan apabila kondisi memungkinkan.

Evaluasi harian menjadi bagian penting untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk melihat perkembangan awan dan peluang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menggunakan bahan semai lain.

Selain menggunakan dry ice, pemerintah tetap menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan natrium klorida atau NaCl. Namun, pelaksanaannya akan mempertimbangkan perkembangan kondisi atmosfer dan potensi terbentuknya awan hujan.

Iqbal menjelaskan, penyemaian dry ice diharapkan membantu mendorong perubahan kondisi atmosfer sehingga dapat mendukung proses pembentukan awan hujan. Perkembangan tersebut nantinya akan dipantau dan diinformasikan kepada BMKG sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan OMC lanjutan.

“OMC masih menunggu perkembangan awan hujan. Mudah-mudahan setelah dilakukan dry ice bisa terbuka dan asap naik ke atas, menurut BMKG akan muncul bibit-bibit pembentukan awan hujan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, informasi mengenai perkembangan awan akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan waktu pelaksanaan OMC menggunakan NaCl.

Di tengah penanganan karhutla, perbaikan jarak pandang menjadi salah satu target penting dari penyemaian dry ice. Kondisi udara yang berkabut dapat menghambat operasional penerbangan, termasuk helikopter yang dikerahkan untuk melakukan water bombing atau pengeboman air.

BPBD Sumsel berharap metode baru tersebut dapat membantu menipiskan kabut asap di sekitar Bandara SMB II Palembang sehingga operasi pemadaman melalui udara bisa berjalan lebih optimal.

Iqbal menegaskan, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui berbagai upaya, baik oleh satuan tugas darat maupun udara.

Meski demikian, keberhasilan uji coba dry ice masih perlu dilihat dari hasil evaluasi selama pelaksanaan. Pemerintah juga tetap mengandalkan pemantauan BMKG untuk menentukan langkah lanjutan sesuai kondisi atmosfer di Sumsel.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia