Sumsel

2.207 Hotspot Kepung Sumsel, 18 Perusahaan Sumbang Titik Panas

Kurnia | 8 Oktober 2026, 17:07 WIB
2.207 Hotspot Kepung Sumsel, 18 Perusahaan Sumbang Titik Panas
2.207 Hotspot Kepung Sumsel, 18 Perusahaan Sumbang Titik Panas

AKURAT.CO SUMSEL Sebanyak 2.207 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan dalam 24 jam terakhir hingga Kamis (8/10/2026) sore.

Berdasarkan data SiPongi+ yang diperbarui pada pukul 17.03 WIB, hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 1.563 titik.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Musi Banyuasin berada di urutan kedua dengan 244 titik, disusul Muara Enim sebanyak 159 titik.

Sebaran hotspot di Sumatera Selatan dalam 24 jam terakhir didominasi Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 1.563 titik. Selanjutnya, Musi Banyuasin tercatat 244 titik, Muara Enim 159 titik, Banyuasin 86 titik, Ogan Ilir 64 titik.

Lalu, Penukal Abab Lematang Ilir 39 titik, Ogan Komering Ulu Timur 30 titik, Lahat 12 titik, Ogan Komering Ulu 4 titik, Musi Rawas Utara 3 titik, Prabumulih 2 titik, dan Musi Rawas 1 titik.

Dominasi OKI menjadi perhatian karena wilayah tersebut juga sebelumnya tercatat sebagai salah satu daerah dengan hotspot tinggi selama periode karhutla 2026.

Baca Juga: Daftar 18 Perusahaan Penyumbang Hotspot Karhula di Palembang Versi Walhi

Di tengah tingginya jumlah hotspot tersebut, data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumsel sebelumnya menunjukkan adanya ribuan titik panas yang terdeteksi di area konsesi perusahaan.

Berdasarkan analisis WALHI Sumsel menggunakan data SiPongi+ sepanjang 1 September hingga 2 Oktober 2026, terdapat 22.690 hotspot pada area konsesi 81 perusahaan di Sumsel.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.411 hotspot berada pada izin PBPH/HTI yang tersebar di 18 perusahaan.

PT Bumi Mekar Hijau tercatat menjadi perusahaan dengan jumlah hotspot terbanyak dalam daftar tersebut, yakni mencapai 5.960 titik.

Selanjutnya, PT Sumatera Alam Anugerah tercatat memiliki 795 hotspot, PT Paramitra Mulia Langgeng 781 hotspot, PT Sentosa Bahagia Bersama 711 hotspot, dan PT SBA Wood Industries sebanyak 635 hotspot.

Sementara itu, hotspot yang terdeteksi pada area perusahaan lainnya mencapai 12.279 titik pada 63 perusahaan perkebunan.

WALHI sebelumnya menyebut analisis tersebut merupakan pemetaan hotspot berdasarkan lokasi konsesi dan tidak serta-merta menunjukkan bahwa perusahaan menjadi penyebab kebakaran. Status penyebab dan pelanggaran tetap membutuhkan proses pemeriksaan lebih lanjut.

12 Perusahaan di Sumsel Disegel

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebelumnya mencatat sebanyak 57 perusahaan telah disegel dalam penanganan karhutla di area korporasi secara nasional.

Dari jumlah tersebut, 12 perusahaan berada di Sumatera Selatan.

Terhadap lokasi yang disegel, pemerintah masih melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti untuk menentukan dugaan pelanggaran, apakah masuk ranah administratif, perdata, maupun pidana.

Besarnya jumlah hotspot juga terjadi di tengah kondisi ekologis Sumsel yang memiliki kawasan gambut cukup luas.

Berdasarkan analisis WALHI terhadap Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sumsel, terdapat 16.685 hotspot yang terdeteksi.

Sebanyak 11.845 hotspot atau 70,99 persen berada pada kategori Kubah Gambut. Sementara 4.840 hotspot atau 29,01 persen berada pada kategori Non-Kubah Gambut.

Data tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi hotspot di Sumsel, terutama di wilayah yang memiliki kawasan gambut dan konsesi skala besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia