Sumsel

7 Hari OMC di Sumsel Belum Berbuah Hujan Signifikan, BMKG Ungkap Penyebabnya

Kurnia | 28 Agustus 2026, 17:16 WIB
7 Hari OMC di Sumsel Belum Berbuah Hujan Signifikan, BMKG Ungkap Penyebabnya

AKURAT.CO SUMSEL Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan (Sumsel) selama tujuh hari belum mampu menghasilkan hujan dengan intensitas signifikan.

OMC yang berlangsung sejak 22 hingga 28 Agustus 2026 tersebut menghadapi tantangan karena bertepatan dengan puncak musim kemarau. Kondisi ini membuat keberadaan awan hujan yang dapat disemai menjadi terbatas.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan OMC tidak bekerja dengan cara menciptakan awan hujan dari kondisi atmosfer yang tidak mendukung.

Menurutnya, teknologi tersebut justru memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami untuk kemudian dioptimalkan agar mampu menghasilkan hujan.

“Pelaksanaan OMC diarahkan untuk mengoptimalkan awan potensial hujan yang telah terbentuk secara alami, melalui penyemaian bahan semai berupa NaCl pada awan target yang memenuhi kriteria operasional,” jelas Siswanto, Jumat (28/8/2026).

Baca Juga: Kualitas Udara Belum Membaik, Bidokes Polrestabes Palembang Bagikan 5.500 Masker Gratis untuk Pelajar

Ia mengatakan keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat operasi dilakukan.

Sejumlah faktor harus terpenuhi, di antaranya suhu muka laut yang relatif hangat, kelembapan udara yang cukup pada lapisan bawah hingga menengah, serta atmosfer yang cukup labil.

Kondisi tersebut dibutuhkan agar awan konvektif dapat tumbuh dan berkembang hingga berpotensi menghasilkan hujan.

Namun, kondisi Sumsel saat ini justru berada pada periode puncak musim kemarau.

“Situasi tersebut membuat potensi pertumbuhan awan hujan tidak selalu tersedia dalam jumlah dan karakteristik yang ideal untuk dilakukan penyemaian,” kata Siswanto.

Selama pelaksanaan OMC, penyemaian dilakukan dengan menyasar wilayah yang masih memiliki peluang pertumbuhan awan.

Beberapa di antaranya Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Muara Enim.

Pada hari pertama, petugas sempat menemukan pertumbuhan awan potensial hujan di sekitar OKI dan Ogan Ilir.

Awan tersebut kemudian menjadi sasaran penyemaian karena dinilai memenuhi karakteristik untuk dilakukan modifikasi.

“Pada pelaksanaan hari pertama, pertumbuhan awan potensial hujan terpantau cukup baik di sekitar OKI dan Ogan Ilir,” ujarnya.

Meski demikian, keberadaan awan saja belum cukup untuk memastikan hujan dengan intensitas tinggi.

Pergerakan awan juga menjadi faktor penting. Berdasarkan pemantauan arah dan kecepatan angin, massa udara serta awan dari wilayah sasaran secara umum bergerak ke arah barat laut.

Pola tersebut membuat sebagian awan yang tumbuh di OKI dan Ogan Ilir berpotensi bergerak menuju Kota Palembang dan daerah sekitarnya.

Namun, kondisi awan dapat berubah selama bergerak. Awan yang telah disemai tetap dipengaruhi kondisi atmosfer yang dilewatinya.

Baca Juga: Jaga Hutan Adat, Warga Tebat Benawa Raih Penghargaan Wana Lestari Nasional 2026

Siswanto menegaskan bahwa OMC bukan teknologi yang dapat mendatangkan hujan secara instan.

Penyemaian hanya dilakukan terhadap awan yang telah tersedia dan memenuhi kriteria tertentu.

“Hujan yang terjadi selama pelaksanaan OMC di wilayah target maupun daerah sekitarnya belum menunjukkan intensitas yang signifikan,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari atmosfer Sumsel yang masih berada dalam periode puncak musim kemarau.

Meski hasil hujan belum signifikan, OMC tetap memiliki peluang untuk membantu mengoptimalkan proses pembentukan hujan dari awan yang tersedia.

“Penyemaian dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses mikrofisika di dalam awan sehingga proses pembentukan butir air, penggabungan partikel air, dan presipitasi dapat berlangsung lebih optimal,” jelasnya.

Upaya tersebut menjadi salah satu langkah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel.

Jika hujan turun di wilayah rawan kebakaran, kondisi tersebut diharapkan dapat membantu membasahi lahan sekaligus mengurangi potensi penyebaran kabut asap.

Dengan demikian, OMC tetap menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan peluang turunnya hujan, meski hasil akhirnya sangat bergantung pada kondisi alam.

“OMC dalam hal ini berpotensi memberikan kontribusi dalam mengoptimalkan proses presipitasi pada awan yang telah tersedia dengan harapan mengendalikan dampak kabut asap,” tutup Siswanto.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia