Sumsel

Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 1 Persen, Konflik AS-Iran Jadi Sorotan

Kurnia | 28 September 2026, 13:48 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 1 Persen, Konflik AS-Iran Jadi Sorotan
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Minyak mentah Brent tercatat naik USD 1,32 atau 1,27 persen menjadi USD 105,64 per barel pada pukul 00.36 GMT.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 70 sen atau 0,76 persen menjadi USD 93,11 per barel.

Penguatan harga minyak terjadi ketika pasar masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran serta serangkaian serangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi global.

Iran sebelumnya menyampaikan proposal perdamaian kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar. Proposal tersebut disampaikan dalam rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Salah satu poin yang dibahas dalam proposal tersebut adalah upaya mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, Trump menyatakan menolak proposal tersebut pada Sabtu.

Meski demikian, Trump mengatakan kepada Axios melalui sambungan telepon pada Minggu bahwa negosiator Amerika Serikat kemungkinan kembali melakukan pembicaraan dengan Iran pada pekan ini.

Perkembangan tersebut membuat pasar energi masih menghadapi ketidakpastian. Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan minyak dunia sehingga gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi pasokan global.

Baca Juga: DPRD dan Pemprov Sumsel Sepakati Perubahan APBD 2026 Rp9,53 Triliun

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah terjadi serangan yang melibatkan kelompok Houthi dan Iran.

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan kelompok Houthi menuju wilayah Arab Saudi pada Sabtu pagi.

Analis ANZ menilai kondisi tersebut membuat risiko terhadap pasokan energi di kawasan Timur Tengah masih tinggi.

Situasi ini menjadi perhatian pasar karena keamanan fasilitas dan jalur distribusi minyak dapat memengaruhi kelancaran pasokan ke pasar internasional.

Ekspor Minyak Timur Tengah Mulai Pulih

Di tengah ketegangan geopolitik, pengiriman minyak dari sejumlah produsen utama Timur Tengah justru menunjukkan peningkatan.

Data awal Kpler memperkirakan ekspor minyak dari sejumlah produsen utama kawasan tersebut mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari pada September. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak perang dimulai pada Februari.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab termasuk negara yang meningkatkan pengiriman minyak.

Pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz juga diperkirakan mulai meningkat. Kpler memperkirakan volumenya mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari pada September.

Arab Saudi turut menyesuaikan jalur pengiriman setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West. Sebagian pengiriman dialihkan dari Pelabuhan Yanbu di Laut Merah menuju Ras Tanura di wilayah timur Arab Saudi.

Pasar minyak juga menghadapi persoalan lain dari tingginya harga diesel di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut kembali memunculkan pembahasan mengenai kemungkinan pembatasan ekspor diesel AS guna menambah pasokan untuk pasar domestik.

Namun, kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap aktivitas kilang Amerika Serikat dan mengurangi ketersediaan produk minyak olahan di pasar global.

Analis ANZ menyebut produk minyak olahan masih menjadi salah satu sumber tekanan di pasar energi. Harga diesel AS yang tinggi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Kemungkinan berkurangnya ekspor diesel Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar Eropa yang bergantung pada pasokan produk minyak dari berbagai sumber.

Pasar Masih Menunggu Perkembangan Konflik

Pergerakan harga minyak menunjukkan pasar masih sangat memperhatikan perkembangan konflik AS-Iran.

Pemulihan ekspor minyak dari sejumlah negara Timur Tengah memberikan tambahan pasokan bagi pasar. Namun, risiko gangguan tetap ada selama konflik dan serangan di kawasan belum mereda.

Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian pelaku pasar setelah Trump menolak proposal terbaru Teheran, tetapi masih membuka kemungkinan negosiasi lanjutan.

Untuk saat ini, harga minyak dunia masih dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi kedua negara, kondisi Selat Hormuz, serta keamanan fasilitas dan jalur distribusi energi di Timu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia