Kenapa Makan Banyak tapi Tidak Gemuk? Ini Penjelasan Menurut Jurnal Kesehatan

AKURAT.CO SUMSEL Pernah melihat seseorang yang bisa makan dalam jumlah cukup banyak tetapi berat badannya terlihat tetap stabil?
Kondisi tersebut sering membuat orang bertanya-tanya, mengapa ada orang yang mudah naik berat badan, sementara orang lain tampak tidak mengalami perubahan berarti meski memiliki pola makan yang sama.
Jawabannya ternyata tidak sesederhana jumlah makanan yang dikonsumsi.
Berat badan dipengaruhi oleh keseimbangan antara energi yang masuk dari makanan dan energi yang digunakan tubuh, termasuk energi untuk mempertahankan fungsi tubuh serta aktivitas sehari-hari.
Penelitian menunjukkan bahwa respons setiap orang terhadap kelebihan asupan energi juga dapat berbeda. Salah satu faktor yang banyak diteliti adalah non-exercise activity thermogenesis (NEAT) atau pengeluaran energi dari aktivitas fisik sehari-hari yang bukan olahraga terstruktur.
1. Aktivitas Sehari-hari Bisa Membakar Banyak Energi
Tidak semua pembakaran kalori berasal dari olahraga.
Berjalan kaki, berdiri, naik tangga, melakukan pekerjaan rumah, bergerak ketika bekerja hingga gerakan-gerakan kecil seperti menggoyangkan kaki termasuk aktivitas yang membutuhkan energi.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari NEAT. Besarnya NEAT dapat berbeda secara signifikan antara satu orang dan orang lainnya.
Karena itu, dua orang dengan pola makan yang mirip belum tentu memiliki pengeluaran energi harian yang sama.
Baca Juga: Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia, Nomor 1 Konglomerat Batu Bara
Penelitian yang diterbitkan di Science pada 1999 memberikan gambaran mengenai hal tersebut. Dalam penelitian tersebut, 16 orang dewasa nonobesitas diberi tambahan sekitar 1.000 kilokalori per hari selama delapan minggu.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan besar dalam penyimpanan lemak. Peneliti menemukan bahwa peningkatan pengeluaran energi akibat aktivitas nonolahraga berperan dalam menjelaskan perbedaan respons tersebut.
Artinya, orang yang terlihat "banyak makan tetapi tidak gemuk" bisa saja secara tidak sadar lebih aktif sepanjang hari.
2. Metabolisme Setiap Orang Tidak Persis Sama
Tubuh membutuhkan energi bahkan ketika seseorang sedang tidak melakukan aktivitas berat.
Energi tersebut digunakan untuk mempertahankan fungsi dasar seperti bernapas, menjaga suhu tubuh, memompa darah, serta menjalankan berbagai proses biologis.
Besarnya kebutuhan energi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk ukuran tubuh, komposisi tubuh, usia, jenis kelamin dan kondisi fisiologis.
Karena itu, kebutuhan energi setiap orang tidak dapat disamakan hanya berdasarkan jumlah makanan yang terlihat dikonsumsi.
Seseorang yang memiliki massa tubuh tanpa lemak atau massa otot lebih besar, misalnya, dapat memiliki kebutuhan energi yang berbeda dibandingkan orang lain dengan ukuran tubuh yang sama tetapi komposisi tubuh berbeda.
3. Faktor Genetik Juga Ikut Berperan
Berat badan bukan hanya persoalan kemauan makan atau olahraga.
Penelitian terbaru mengenai genetika obesitas menunjukkan bahwa regulasi berat badan merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak faktor genetik. Kajian yang diterbitkan di Nature Metabolism pada 2026 menyebutkan bahwa penelitian genome-wide telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 lokus yang berkaitan dengan variasi berat badan.
Faktor genetik dapat memengaruhi sejumlah mekanisme, termasuk pengaturan nafsu makan, penggunaan energi dan penyimpanan lemak.
Namun, faktor genetik bukan berarti seseorang otomatis tidak akan mengalami kenaikan berat badan. Lingkungan, pola makan, aktivitas fisik dan faktor lainnya tetap berperan.
4. Tubuh Memiliki Sistem Pengatur Energi
Tubuh manusia memiliki mekanisme biologis yang membantu mengatur keseimbangan energi.
Hormon dan sinyal dari jaringan tubuh dapat memengaruhi rasa lapar, kenyang dan pengeluaran energi. Sistem tersebut membantu tubuh mempertahankan berat badan dalam rentang tertentu.
Kajian mengenai regulasi energi menunjukkan bahwa hormon yang berkaitan dengan cadangan lemak dapat memberikan sinyal kepada otak untuk memengaruhi asupan makanan dan pengeluaran energi.
Itulah sebabnya respons tubuh terhadap makanan tidak selalu sama pada setiap orang.
5. "Makan Banyak" Belum Tentu Berarti Kelebihan Kalori
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah persepsi mengenai jumlah makanan.
Seseorang mungkin terlihat makan dalam porsi besar pada satu waktu, tetapi belum tentu total energi yang dikonsumsinya sepanjang hari lebih tinggi.
Sebaliknya, makanan dengan ukuran porsi kecil dapat memiliki kepadatan energi yang tinggi.
Selain itu, pola makan seseorang dapat berubah dari hari ke hari. Ada orang yang makan lebih banyak dalam satu waktu tetapi secara alami mengurangi asupan pada waktu berikutnya.
Karena itu, menilai keseimbangan energi hanya berdasarkan satu kali makan atau satu jenis makanan dapat memberikan gambaran yang tidak lengkap.
6. Tidak Semua Orang yang Kurus Memiliki Metabolisme Cepat
Anggapan bahwa tubuh kurus pasti memiliki metabolisme sangat cepat juga perlu dilihat secara hati-hati.
Riset tentang metabolisme menunjukkan adanya variasi individual dalam pengeluaran energi, tetapi mekanismenya kompleks dan tidak seluruhnya dapat dijelaskan hanya dengan istilah "metabolisme cepat".
Bahkan, penelitian mengenai adaptasi metabolisme masih menunjukkan adanya perbedaan hasil dan keterbatasan dalam pengukurannya.
Dengan kata lain, berat badan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, bukan hanya satu penyebab.
Jadi, Mengapa Ada Orang yang Banyak Makan tapi Tetap Kurus?
Secara sederhana, beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan kondisi tersebut antara lain:
aktivitas fisik sehari-hari yang tinggi tanpa disadari;
kebutuhan energi dasar yang berbeda;
komposisi tubuh yang berbeda;
regulasi rasa lapar dan kenyang;
faktor genetik;
pola makan harian yang sebenarnya tidak selalu tinggi kalori.
Penelitian tentang respons tubuh terhadap kelebihan asupan energi menunjukkan bahwa kemampuan seseorang dalam meningkatkan pengeluaran energi melalui aktivitas nonolahraga dapat berbeda.
Perbedaan inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kenaikan berat badan akibat makan berlebihan tidak selalu sama pada setiap orang.
Meski demikian, bukan berarti seseorang bisa makan tanpa batas dan pasti tidak mengalami kenaikan berat badan.
Jika asupan energi secara konsisten melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi tetap dapat disimpan dan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan berat badan.
Sebaliknya, orang yang sulit menaikkan berat badan meski sudah makan banyak juga tidak sebaiknya langsung menganggap dirinya memiliki metabolisme cepat.
Jika berat badan sulit naik, turun tanpa sebab yang jelas, atau disertai keluhan seperti mudah lelah, jantung berdebar, gangguan pencernaan maupun perubahan nafsu makan yang signifikan, pemeriksaan medis dapat membantu mencari penyebabnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Klasemen Sementara Asian Games 2026: Indonesia di Urutan 14 Raih 27 Medali
- 2iPhone 18 Pro Max vs Xiaomi 18 Pro Max, Adu Spek Flagship 2026: Kamera 200MP hingga Baterai 8.500 mAh
- 3Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Berakhir Minggu Depan, Cek Tanda Bantuan Siap Cair
- 415 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Besok Siang, Cek Daftar Wilayahnya
- 5Ciri-ciri Bansos PKH BPNT September 2026 Cair dan Masuk Rekening
- 6Tanda Bansos Cair Lengkap dengan Panduan Pengambilan Bantuan Via Bank dan PT Pos Indonesia
- 7Jadwal Timnas Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Jam Berapa?
- 8Harvest Moon 26-27 September 2026, Ini Waktu Puncak Bulan Purnama di Indonesia
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu



