Sumsel

Sering Perang Dingin dengan Mertua? 5 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Kurnia | 16 September 2026, 11:00 WIB
Sering Perang Dingin dengan Mertua? 5 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya
ilustrasi perang dingin dengan mertua

AKURAT.CO SUMSEL Hubungan antara menantu dan mertua tak selalu berjalan mulus.

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga persoalan batasan pribadi terkadang memicu ketegangan yang berujung pada sikap saling diam atau yang kerap disebut sebagai “perang dingin”.

Situasi tersebut bisa terasa melelahkan, terutama ketika pasangan berada di tengah-tengah hubungan antara orang tua dan pasangannya.

Meski setiap keluarga memiliki dinamika berbeda, ada sejumlah hal yang kerap menjadi pemicu hubungan kurang harmonis antara menantu dan mertua.

1. Perbedaan Cara Mengurus Rumah Tangga

Perbedaan pandangan mengenai urusan rumah tangga bisa menjadi sumber gesekan.

Mertua mungkin memiliki pengalaman dan kebiasaan sendiri, sementara pasangan yang baru membangun rumah tangga ingin menentukan cara yang sesuai dengan kondisinya.

Jika perbedaan tersebut tidak dibicarakan dengan baik, komentar sederhana pun dapat dianggap sebagai bentuk kritik.

2. Terlalu Banyak Ikut Campur

Masalah lain yang sering muncul adalah batasan dalam kehidupan rumah tangga.

Mulai dari cara mengasuh anak, mengatur keuangan, memasak, hingga menentukan keputusan keluarga bisa menjadi bahan perbedaan pendapat.

Ketika salah satu pihak merasa terlalu banyak mendapatkan intervensi, hubungan yang awalnya biasa saja dapat berubah menjadi renggang.

Baca Juga: Desil 1- 4 Dapat Bansos Apa Saja September 2026? Cek Daftarnya di Sini

3. Masalah Komunikasi

Perang dingin sering kali bukan disebabkan oleh satu masalah besar, melainkan akumulasi persoalan kecil yang tidak pernah dibicarakan.

Menantu mungkin memilih diam agar tidak memperbesar masalah. Di sisi lain, mertua dapat menganggap sikap tersebut sebagai bentuk tidak menghargai.

Tanpa komunikasi yang terbuka, kesalahpahaman pun semakin mudah terjadi.

4. Pasangan Tidak Menjadi Penengah

Pasangan memiliki posisi penting dalam menjaga hubungan antara menantu dan orang tua.

Ketika muncul konflik, pasangan sebaiknya tidak langsung memperkeruh keadaan dengan menyalahkan salah satu pihak.

Komunikasi yang jelas mengenai batasan, kebutuhan, dan harapan masing-masing dapat membantu mengurangi potensi konflik.

5. Ekspektasi yang Berbeda

Setiap keluarga memiliki harapan berbeda terhadap hubungan menantu dan mertua.

Ada yang menginginkan hubungan sangat dekat, sementara pihak lain membutuhkan lebih banyak ruang pribadi. Perbedaan ekspektasi tersebut dapat menimbulkan rasa kecewa jika tidak dibicarakan sejak awal.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak selalu berarti harus selalu dekat. Yang lebih penting adalah adanya rasa saling menghormati, komunikasi yang wajar, serta batasan yang dipahami bersama.

Jika ketegangan mulai muncul, menyelesaikan masalah melalui percakapan yang tenang dapat menjadi langkah awal dibandingkan terus mempertahankan sikap saling diam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia