4 Hal Krusial yang Wajib Diketahui Sebelum Menambahkan Aditif "Anti Oli"

AKURAT.CO SUMSEL Tren penggunaan aditif tambahan pada oli mesin, atau yang sering disebut sebagai "anti oli", kian menjamur di kalangan pemilik sepeda motor yang mendambakan performa ekstra.
Produk-produk ini diklaim mampu meningkatkan pelumasan, mengurangi gesekan, hingga memperpanjang umur mesin.
Namun, para ahli dan teknisi menyuarakan peringatan keras. Sebelum tergiur janji performa instan, ada empat fakta krusial yang wajib dipahami pengendara motor mengenai potensi risiko dan dampak dari penambahan zat aditif ini.
Alih-alih merawat, penggunaan yang tidak tepat justru bisa berujung pada kerusakan komponen mesin yang mahal.
Berikut adalah 4 hal yang harus diketahui pengendara motor sebelum menggunakan aditif "anti oli":
1. Formulasi Oli Sudah Didesain SempurnaOli mesin yang beredar di pasaran, terutama dari merek-merek ternama, sudah melalui riset dan pengembangan ekstensif.
Oli tersebut telah mengandung paket aditif yang seimbang dan optimal (seperti detergent, dispersant, anti-wear, anti-corrosion, dan friction modifier) yang disesuaikan dengan spesifikasi dan standar pabrikan motor (API, JASO, SAE).
2. Risiko Penyumbatan Saluran Oli Seperti "Kolesterol" MesinSalah satu bahaya terbesar adalah penyumbatan sirkulasi oli. Menurut teknisi, gumpalan atau kerak yang terbentuk akibat ketidakcocokan aditif bisa menyumbat lubang-lubang kecil pada filter oli dan saluran pelumasan mesin.
Hal ini ibarat "kolesterol" pada pembuluh darah manusia; oli tidak dapat bersirkulasi dengan baik untuk melumasi komponen.
Akibatnya fatal, yaitu keausan berlebihan yang bisa merusak piston, ringpiston, hingga bearing dan memaksa mesin harus turun mesin.
3. Waspada Aditif dengan Molybdenum Disulfide (MoS2) pada Motor Kopling BasahBeberapa aditif yang populer mengandung zat penurun gesekan tinggi, seperti Molybdenum Disulfide(MoS2) atau sejenisnya. Zat ini sangat efektif mengurangi gesekan pada mesin mobil.
Penggunaan aditif jenis ini sangat tidak disarankan untuk motor dengan sistem kopling basah (motor sport dan motor bebek pada umumnya). Aditif penurun gesekan ekstrem dapat membuat kampas kopling menjadi terlalu licin.
4. Klaim Perpanjangan Umur Oli Belum Teruji StandarMenunda penggantian oli berdasarkan klaim aditif adalah praktik yang berisiko. Meskipun aditif bisa memperkuat beberapa properti pelumas, mereka tidak bisa menghilangkan kontaminasi alami yang terjadi pada oli bekas, seperti partikel kotoran, residu pembakaran, dan air.
Penundaan ganti oli dapat membuat oli kehilangan kemampuan pendinginan dan menetralisir asam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1BMKG Prediksi Sumsel Akan Dilanda Hujan Besok, Palembang Berpotensi Sore dan Malam
- 2Siap-siap, Kemensos dan PT Pos Siapkan Skema Baru Penyaluran Bansos
- 3Avengers Endgame: Encore Resmi Tayang di Bioskop, Simak Perbedaannya dengan Versi 2019
- 4BMKG Prediksi 15 Daerah di Sumsel Masih Dilanda Hujan Besok Rabu 23 September 2026
- 5HP Realme 16 Pro Edisi Harry Potter Rilis di Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya
- 6Ramalan Zodiak Cancer Hari Ini 23 September 2026: Jangan Terburu-buru Ambil Keputusan
- 7Cek Harga Emas Perhiasan di Palembang Selasa 22 September 2026, Naik atau Turun?
- 8Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Segera Berakhir, Cek Status Pencairanmu Segera
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








