Sumsel

Batu Bara Masih Jadi Andalan Ekspor Sumsel, tapi Kinerjanya Turun 16,33 Persen

Kurnia | 7 Oktober 2026, 20:00 WIB
Batu Bara Masih Jadi Andalan Ekspor Sumsel, tapi Kinerjanya Turun 16,33 Persen
Ilustrasi

AKURAT.CO SUMSEL Perdagangan luar negeri Sumatera Selatan (Sumsel) menghadapi tekanan sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Salah satu komoditas andalan daerah, batu bara dan lignit, mengalami penurunan ekspor meski masih menjadi penyumbang terbesar.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, nilai ekspor batu bara dan lignit turun 16,33 persen secara tahunan. Padahal, komoditas tersebut memiliki kontribusi sekitar 37,57 persen terhadap total ekspor Sumsel.

Penurunan komoditas utama itu turut menekan kinerja ekspor Sumsel secara keseluruhan. Nilai ekspor Sumsel selama Januari-Agustus 2026 tercatat sekitar US$3,9 miliar, turun 6,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan tekanan terbesar berasal dari sektor nonmigas.

“Ekspor Sumsel kumulatif hingga Agustus 2026 sebesar US$3,9 miliar atau menurun dibandingkan kumulatif 2025,” kata Wahyu, Selasa (6/10/2026).

Ekspor nonmigas Sumsel tercatat sekitar US$3,5 miliar, turun 11,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain batu bara dan lignit, komoditas karet dan barang dari karet juga mengalami penurunan sebesar 10,92 persen.

Namun, tidak semua komoditas utama mencatat kinerja negatif. Ekspor industri pulp dari kayu justru tumbuh 2,15 persen pada periode yang sama.

Baca Juga: 43 Perusahaan di Sumsel Diminta Ikut Basahi Gambut untuk Cegah Karhutla

Di tengah melemahnya ekspor nonmigas, sektor migas Sumsel justru mencatat pertumbuhan cukup tinggi.

Nilai ekspor migas mencapai sekitar US$451 juta, naik 76,12 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.

Meski pertumbuhannya signifikan, kontribusi ekspor migas masih lebih kecil dibandingkan nonmigas. Karena itu, kenaikan ekspor migas belum mampu menutup tekanan dari sektor nonmigas.

Penurunan juga terjadi pada beberapa kelompok sektor ekonomi. Ekspor sektor pertanian, kehutanan dan perikanan turun 33,78 persen menjadi US$48,49 juta.

Sementara sektor pertambangan dan lainnya turun 16,33 persen menjadi sekitar US$1,3 miliar. Ekspor sektor industri pengolahan juga terkoreksi 7,66 persen menjadi sekitar US$2,1 miliar.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama produk ekspor Sumsel.

Baca Juga: Palembang, OKI dan Lahat Dominasi Ekspor Sumsel hingga Agustus 2026

Nilai ekspor Sumsel ke Tiongkok sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai sekitar US$1,3 miliar. Produk yang dikirim antara lain pulp dari kayu, batu bara dan lignit, serta karet dan barang dari karet.

India berada di posisi berikutnya dengan nilai ekspor sekitar US$431 juta. Komoditas yang dikirim meliputi batu bara dan lignit, karet dan barang dari karet, serta bahan kimia organik.

Sementara Malaysia menjadi negara tujuan ekspor terbesar ketiga dengan nilai sekitar US$379 juta. Komoditas utamanya berupa batu bara dan lignit, lemak dan minyak nabati, serta kertas, karton dan produk turunannya.

Data tersebut menunjukkan bahwa meski ekspor Sumsel masih ditopang komoditas utama seperti batu bara, struktur ekspor daerah mulai menghadapi tekanan dari pelemahan sejumlah komoditas unggulan.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor pulp kayu dan migas menjadi salah satu penopang di tengah penurunan kinerja ekspor secara keseluruhan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia