Sumsel

Polrestabes Palembang Pastikan Dugaan Penganiayaan Siswi SDN 150 Tak Terbukti

Maman Suparman | 10 November 2025, 16:14 WIB
Polrestabes Palembang Pastikan Dugaan Penganiayaan Siswi SDN 150 Tak Terbukti

AKURAT.CO SUMSEL Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Palembang memastikan bahwa dugaan penganiayaan terhadap siswi SDN 150 Palembang berinisial F (7) tidak terbukti.

Berdasarkan hasil visum dari tim medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik, baik akibat benda tumpul maupun benda tajam.

Kapolrestabes Palembang Kombes Pol Harryo Sugihhartono menjelaskan, hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa mata merah yang dialami F bukan disebabkan kekerasan, melainkan akibat penyakit pertusis atau batuk rejan.

“Dari hasil visum tidak ada bekas kekerasan pada korban. Saat diperiksa, korban mengalami batuk rejan selama kurang lebih satu bulan, disertai bintik-bintik merah yang menyebabkan area mata tampak memerah seperti lebam,” ujar Harryo, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, batuk rejan merupakan penyakit pernapasan menular yang dapat menimbulkan tekanan di sekitar wajah dan mata. Kondisi tersebut, kata dia, sesuai dengan gejala medis yang ditemukan pada F.

Baca Juga: Siswi SDN 150 Palembang yang Sempat Diduga Dianiaya Guru Kini Pulang dari RS Bari, Hasil Pemeriksaan Sebut Positif Pertusis

“Batuk rejan ini yang menimbulkan efek di bagian mata hingga tampak memerah,” jelasnya.

Harryo menegaskan, hasil penyelidikan yang dilakukan oleh kepolisian menyimpulkan bahwa laporan dugaan penganiayaan terhadap F resmi dihentikan karena tidak ditemukan unsur tindak pidana.

“Setelah dilakukan penyelidikan dan berdasarkan hasil visum, laporan tersebut tidak terbukti. Jadi penyelidikan kami hentikan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, hingga kini pihak sekolah dan dewan guru SDN 150 Palembang belum mengajukan laporan balik terkait kasus yang sempat viral di media sosial itu.

Kasus ini sebelumnya ramai diperbincangkan di dunia maya setelah muncul dugaan kekerasan yang menyebabkan F mengalami mata merah. Namun, hasil penyelidikan menunjukkan penyebabnya murni medis.

Harryo pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan bijak dalam bermedia sosial.

“Kami harap masyarakat bisa lebih berhati-hati menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya. Jangan sampai menimbulkan kegaduhan dan merugikan pihak lain,” tutupnya. (Deny Wahyudi)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia