Sumsel

Sumsel Matangkan Agenda Pariwisata 2026, Siap Gelar Parade 1.000 Perahu Ketek

Maman Suparman | 8 Desember 2025, 19:00 WIB
Sumsel Matangkan Agenda Pariwisata 2026, Siap Gelar Parade 1.000 Perahu Ketek

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bergerak cepat mematangkan kalender wisata 2026.

Kabid Pengembangan Pemasaran Disbudpar Sumsel, Sido Santoso, mengungkapkan bahwa agenda utama yang menjadi sorotan adalah Parade 1.000 Ketek (Getek) yang dijadwalkan pada 11 Januari 2026.

"Parade 1.000 Ketek akan digelar bertepatan dengan Haul Ki Marogan ke-125," kata Sido, Senin (8/12/2025).

Parade perahu tradisional ini rencananya akan menempuh rute dari Masjid Lawang Kidul menuju Masjid Ki Marogan dengan estimasi durasi perjalanan sekitar satu jam. Saat ini, sudah terdata sekitar 500 perahu ketek, dan Disbudpar menargetkan partisipasi mencapai 1.000 perahu.

“Ini sangat menarik karena penyebaran Islam oleh Ki Marogan dulunya terjadi melalui jalur sungai. Sebelum kegiatan puncak tersebut, pada 12 Desember 2025 juga akan ada event pendukung yaitu Kampung Iwak Fest,” tambahnya.

Disbudpar mendorong para pelaku usaha pariwisata, termasuk hotel dan travel agent, untuk segera merancang paket wisata khusus, terutama yang menargetkan wisatawan dari negara-negara tetangga.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga di Palembang Tertipu Kenalan Facebook, Motor Raib Dibawa Putra

Sido Santoso juga menyinggung potensi Aplikasi Giwang, platform digital informasi wisata Sumsel, yang saat ini datanya telah diisi oleh 17 kabupaten/kota. Ia berharap aplikasi tersebut dapat dioptimalkan secara maksimal oleh industri untuk mempromosikan layanan mereka.

Menanggapi rencana ini, Ketua Masata Sumsel, Herlan Asfiudin (Babe), menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci utama untuk menarik kedatangan wisatawan mancanegara.

“Palembang ini hidup dari event, bukan dari perkebunan atau minyak. Maka, supaya ramai, event harus diperbanyak dan dikemas agar memiliki daya tarik nasional maupun internasional,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPD ASITA Sumsel, Feby Yoland Effendy, menyoroti potensi Health Tourism (Wisata Kesehatan) sebagai produk wisata baru yang mulai dilirik Sumsel. Namun, ia mewanti-wanti pentingnya standardisasi dan kesiapan ekosistem.

“Kita harus tahu apa yang mau dijual, apakah medical tourism, wellness, traditional health, atau lifestyle improvement. Hotel juga harus mendukung dengan menu dan paket sehat. Rumah sakit dan spa juga harus tersertifikasi dengan baik,” ujar Feby.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia