Sumsel

741 Kali Kebakaran Lahan Terjadi di Palembang, Ratu Dewa Perkuat Kesiapsiagaan

Deny Wahyudi | 15 Oktober 2026, 14:20 WIB
741 Kali Kebakaran Lahan Terjadi di Palembang, Ratu Dewa Perkuat Kesiapsiagaan
741 Kali Kebakaran Lahan Terjadi di Palembang, Ratu Dewa Perkuat Kesiapsiagaan

AKURAT.CO SUMSEL Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mencapai 741 kejadian sepanjang Januari hingga 13 Oktober 2026. Luas lahan yang terdampak tercatat sekitar 358,28 hektare.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, pemerintah kota terus memperkuat upaya pencegahan dan pemadaman karhutla, sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kabut asap yang memburuk.

Berdasarkan data Pemkot Palembang, Kecamatan Kertapati menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran lahan terbanyak, yakni 138 kejadian. Berikutnya, Alang-Alang Lebar sebanyak 113 kejadian, Sematang Borang 106 kejadian, Gandus 93 kejadian, dan Sukarami 86 kejadian.

Sementara itu, pada tingkat kelurahan, Talang Kelapa mencatat 56 kejadian, Bukit Baru 49 kejadian, dan Karya Jaya 48 kejadian.

Pemkot Palembang juga menyoroti delapan kelurahan yang mengalami kebakaran berulang, yaitu Keramasan, Karya Jaya, Gandus, Pulokerto, Bukit Baru, Siring Agung, Sukamulya, dan Karya Mulya.

Baca Juga: Sumsel Diserbu 3.009 Titik Panas, Kualitas Udara Palembang Berbahaya

Di Kelurahan Keramasan, kebakaran berulang terjadi sebanyak 18 kali di Jalan Mayjend Satibi Darwis dan 12 kali di Jalan Mayjend Yusuf S. Adapun Jalan Talang Kepuh di Kelurahan Gandus tercatat mengalami 15 kejadian berulang.

Untuk mengantisipasi kebakaran, Pemkot Palembang menyiagakan 20 unit mobil pemadam kebakaran, tiga mobil pickup, tiga mobil rescue, lima mobil pompa, serta satu mobil angkut anggota. Pemerintah kota juga menyiapkan berbagai pompa portabel, selang pemadam, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Penanganan karhutla melibatkan 40 personel BPBD, 232 personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan per sif, 307 personel TNI-Polri, serta 286 personel dari kecamatan dan kelurahan.

Selain itu, posko siaga lapangan telah disiapkan di 18 kecamatan. Pemantauan dan pelaporan dilakukan selama 24 jam, disertai patroli di delapan kecamatan rawan kebakaran.

Selain kebakaran lahan, kabut asap menjadi perhatian karena kualitas udara Palembang berada pada kategori berbahaya.

Data yang dipaparkan dalam rapat menunjukkan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 780 pada 11 Oktober 2026, kemudian turun menjadi 595 pada 12 Oktober, sebelum kembali meningkat menjadi 793 pada 13 Oktober 2026.

Dampak terhadap kesehatan terlihat dari jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada 13 Oktober 2026, tercatat 677 kasus ISPA harian. Sementara itu, jumlah kasus selama September mencapai 17.434 kasus dan pada periode 1–13 Oktober tercatat 7.742 kasus.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, Pemkot Palembang telah membentuk 68 posko kesehatan yang terdiri atas 18 posko kecamatan, 42 posko puskesmas, tujuh posko puskesmas pembantu, dan satu posko kesehatan bergerak di kawasan Talang Jambe.

Pemerintah kota juga telah menyalurkan 138.267 masker kepada masyarakat melalui posko, kantor kecamatan, institusi, dan berbagai saluran pelayanan publik.

Upaya perlindungan masyarakat turut diperkuat melalui Surat Edaran Wali Kota Palembang Nomor 29 Tahun 2026.

Aturan tersebut mencakup pembatasan kegiatan luar ruangan, penggunaan masker, larangan membakar lahan dan sampah, serta penyesuaian pembelajaran secara daring dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara.

Pemkot Palembang juga mencatat dampak kekeringan terhadap masyarakat dan sektor pertanian. Di Kecamatan Sukarami, kekeringan berdampak pada 720 kepala keluarga, disusul Sematang Borang sebanyak 58 kepala keluarga dan Jakabaring empat kepala keluarga.

Pada sektor pertanian, lahan sawah yang terdampak meliputi 407 hektare di Kecamatan Gandus, 22 hektare di Ilir Barat I, dan 21,5 hektare di Kertapati.

Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, Pemkot Palembang terus memantau pasokan air bersih melalui Perumda Tirta Musi. Produksi dan distribusi air secara umum dilaporkan masih aman dan terkendali, meskipun tingkat kekeruhan air baku mengalami fluktuasi.

Perumda Tirta Musi juga menyediakan hidran air di 16 lokasi instalasi pengolahan air dan booster. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk pengisian mobil tangki dan mobil pemadam kebakaran serta membantu penyediaan air bersih di wilayah terdampak kekeringan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
Reporter
Deny Wahyudi
K
Editor
Kurnia