Sumsel

Asap Karhutla OKI Terbawa Angin ke Palembang, BPBD Ungkap Wilayah Sumbernya

Kurnia | 25 Agustus 2026, 18:15 WIB
Asap Karhutla OKI Terbawa Angin ke Palembang, BPBD Ungkap Wilayah Sumbernya
Ilustrasi. (iStock)

AKURAT.CO SUMSEL Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menyebut asap yang dirasakan warga Palembang banyak berasal dari titik-titik kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan, arah pergerakan angin membuat asap dari sejumlah wilayah di OKI terbawa hingga ke kawasan perkotaan Palembang.

Beberapa wilayah yang menjadi sumber asap tersebut antara lain Kecamatan Cengal, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan.

“Kalau berdasarkan arah angin, asap kita ini banyak dari OKI. Dari Cengal, Pangkalan Lampam, Selapan. Asap akibat kebakaran di sana terbawa angin ke Palembang,” ujar Iqbal, Selasa (25/8/2026).

Menurut Iqbal, kondisi geografis Palembang yang berada di wilayah dataran rendah turut membuat asap lebih mudah masuk dan bertahan di kawasan perkotaan.

Baca Juga: Asap Karhutla Makin Pekat, Wali Kota Palembang Undur Jam Masuk Sekolah Jadi Pukul 08.00 WIB

Sementara itu, asap yang bergerak ke arah Jambi lebih banyak dipengaruhi kebakaran yang terjadi di wilayah Musi Banyuasin (Muba) dan sebagian Banyuasin.

Kondisi ini membuat penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mengantisipasi dampak asap yang dapat menyebar lintas wilayah.

Seiring meningkatnya eskalasi karhutla, pemerintah pusat menambah dukungan untuk memperkuat penanganan kebakaran di Sumsel.

Bantuan tersebut mencakup armada udara dan berbagai peralatan yang akan digunakan untuk pemadaman maupun pencegahan meluasnya kebakaran.

Sejumlah armada udara telah disiagakan. Penggunaannya akan menyesuaikan kondisi cuaca, terutama potensi pertumbuhan awan di sekitar lokasi karhutla.

Selain armada yang sudah tersedia, satu unit helikopter dijadwalkan tiba di Sumsel pada 28 Agustus 2026.

“Helikopter tanggal 28 ini insyaallah datang satu,” kata Iqbal.

Dukungan dari pemerintah pusat juga berupa 20 unit ekskavator, 500 unit pompa air, sumur bor, serta kendaraan operasional.

Ekskavator nantinya digunakan untuk membuat sekat kanal dan memperdalam embung. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air di wilayah yang rawan mengalami kebakaran.

BPBD Sumsel telah berkoordinasi dengan TNI terkait distribusi alat berat tersebut. Setelah tiba, ekskavator akan langsung dikirim ke daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Ekskavator ini ketika datang akan langsung didistribusikan ke daerah-daerah yang memiliki potensi rawan. Secepatnya,” tegas Iqbal.

Sementara pompa air akan ditempatkan di wilayah yang membutuhkan untuk mendukung proses pemadaman.

Baca Juga: Pemprov Sumsel Gelar Salat Istisqa, Minta Hujan Segera Turun Hujan

Iqbal menjelaskan, bantuan peralatan dari pemerintah pusat sebenarnya telah diberikan sejak awal sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim karhutla.

Namun, jumlah dukungan kemudian ditambah karena peningkatan kebakaran terjadi lebih cepat dari perkiraan.

“Bantuan peralatan dari pemerintah pusat dari awal sudah ada. Cuma jumlahnya memang tidak sesuai dengan eskalasi. Karena eskalasi meningkat, makanya ada percepatan untuk penanganan ini,” ujarnya.

Menurut Iqbal, penanganan karhutla di Sumsel menunjukkan perkembangan positif jika dibandingkan dengan tren sejak 2015. Meski demikian, kondisi cuaca tahun ini menjadi tantangan tersendiri.

Kekeringan dan peningkatan suhu disebut terjadi lebih awal. Jika biasanya eskalasi kebakaran mulai meningkat menjelang September, tahun ini kondisi tersebut sudah terasa sejak Juli.

“Kalau kita lihat dari tren histori dari 2015, penanganan ini sudah semakin bagus. Cuma memang El Nino kita ini yang biasanya siklus empat tahun, ini lebih cepat,” jelasnya.

Kondisi kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan api lebih sulit dipadamkan. Situasi serupa, kata Iqbal, juga terjadi di sejumlah daerah lain, bahkan di negara yang memiliki teknologi penanganan kebakaran lebih maju.

Karena itu, penanganan karhutla dinilai membutuhkan kerja bersama seluruh unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI, hingga pihak terkait lainnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia