ISPU Sejumlah Wilayah Sumsel di Atas 100, Dinkes Ingatkan Bahaya Asap Karhutla

AKURAT.CO SUMSEL Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mulai menurun akibat meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan Sumsel mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Selain memakai masker, warga diminta memperbanyak konsumsi air putih dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara semakin memburuk.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogahtriyah mengatakan imbauan tersebut diberikan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan udara yang tidak sehat.
"Menghadapi kondisi udara yang tidak sehat, kami mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah dan perbanyak minum air putih," ujar Ira, Selasa (18/8/2026).
Menurut Ira, kualitas udara di Sumsel menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sejumlah wilayah telah mencatat angka di atas 100 yang masuk kategori tidak sehat.
"Kita tahu pada bulan Agustus ini indeks standar pencemaran udara sudah di atas 100. Pada rentang nilai tersebut dikatakan tidak sehat," katanya.
Baca Juga: Karhutla Dekati Permukiman, Asap Pekat Selimuti Jalinsum Palembang-Indralaya
Kondisi udara yang tercemar asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
Karena itu, kedua kelompok tersebut dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap mulai pekat. Masyarakat juga diminta segera beristirahat dan mencari tempat dengan udara lebih bersih apabila mengalami keluhan kesehatan.
Puncak Kemarau Tingkatkan Risiko Karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan memburuknya kualitas udara tidak terlepas dari meningkatnya potensi karhutla di tengah musim kemarau.
Jumlah titik panas yang terdeteksi di sejumlah wilayah Sumsel menjadi salah satu indikator meningkatnya ancaman kebakaran.
"Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," ujar Iqbal.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, pemerintah daerah menyiagakan 11.567 personel gabungan. Mereka berasal dari BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Satpol PP, Polisi Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, kelompok tani, regu pemadam kebakaran hingga unsur perusahaan.
Personel tersebut dikerahkan untuk melakukan patroli, pemantauan titik panas hingga pemadaman di lokasi kebakaran.
Iqbal mengatakan penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan masyarakat dari dampak asap juga menjadi perhatian, khususnya ketika kualitas udara kembali memburuk.
"Kami pun mengingatkan perlunya perlindungan lebih terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia, apabila kualitas udara memburuk akibat asap karhutla," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Motorola Moto G37, Moto G77 Power dan Moto G67 Resmi Rilis di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya
- 2Bansos PKH BPNT Tahap 4 Cair Mulai Oktober 2026, Cek Namamu Terdaftar atau Tidak di Sini
- 3Daftar 18 Perusahaan Penyumbang Hotspot Karhula di Palembang Versi Walhi
- 4Ramalan Zodiak Hari Ini 9 Oktober 2026, 5 Zodiak Ini Punya Peluang Baik dalam Karier dan Asmara
- 522 Ribu Lebih Hotspot di Lahan Konsensi, 12 Perusahaan di Sumsel Disegel
- 6Ramalan Zodiak Libra Hari Ini 6 Oktober 2026: Karier Makin Disorot, Keuangan Jangan Impulsif
- 75 Ramalan Zodiak Hari Ini 7 Oktober 2026, Ada yang Berpeluang Hoki
- 8Naik Tipis, Berikut Harga Emas Perhiasan Palembang Selasa 6 Oktober 2026
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu








