PM2.5 Palembang Tembus 181,7 Mikrogram, Asap Karhutla Banyuasin dan OKI Terbawa Angin

AKURAT.CO SUMSEL Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, memburuk pada Kamis (13/8/2026) pagi. Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat mencapai 181,7 mikrogram per meter kubik sekitar pukul 06.00 WIB dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa angin dari wilayah sekitar Palembang.
Kepala Stasiun Klimatologi Palembang, Wandayantolis, mengatakan arah angin menunjukkan asap yang masuk ke Kota Palembang berasal dari wilayah timur dan tenggara.
"Berdasarkan arah angin, asap yang terjadi di Palembang berasal dari wilayah timur dan tenggara Palembang, yakni Banyuasin dan OKI," kata Wandayantolis.
Wandayantolis menjelaskan, peningkatan konsentrasi asap tidak selalu langsung terlihat setelah kebakaran terjadi. Asap dari lokasi karhutla yang cukup jauh membutuhkan waktu untuk terbawa angin hingga mencapai Palembang.
Kondisi itu membuat dampak asap baru terasa lebih pekat pada malam hingga dini hari.
Baca Juga: Antar Anak Les, Ibu di Palembang Berujung Cekcok dan Saling Cakar di Jalan
Pada malam hari, kebakaran masih berpotensi menghasilkan asap. Aktivitas pemadaman juga tidak sebanyak pada siang hari sehingga asap dapat terus terbentuk dan terbawa angin.
"Makanya baru terlihat peningkatan pada dini hari," ujarnya.
Memasuki siang hari, kondisi atmosfer biasanya berubah. Kecepatan angin yang meningkat membuat asap lebih cepat berpindah sehingga konsentrasi PM2.5 di suatu wilayah dapat mengalami perubahan.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat ancaman pencemaran udara akibat karhutla hilang.
Selain asap karhutla, kondisi cuaca juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Sumsel saat ini berada dalam periode musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering dari kondisi normal.
Minimnya hujan membuat lahan semakin kering sehingga potensi terjadinya kebakaran meningkat. Di sisi lain, hujan yang minim juga membuat partikel polutan di udara lebih sulit terurai atau tersapu dari atmosfer.
"Kondisi kemarau akan berlangsung lebih kering dari biasanya," kata Wandayantolis.
Pergerakan angin menjadi faktor penting dalam menentukan sebaran asap. Karena itu, kualitas udara di Palembang dapat berubah dalam waktu yang relatif cepat, tergantung arah dan kecepatan angin serta kondisi kebakaran di wilayah sekitar.
Dengan konsentrasi PM2.5 yang sempat mencapai kategori sangat tidak sehat, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika asap mulai terlihat pekat atau kualitas udara memburuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tanda Bansos Cair Lengkap dengan Panduan Pengambilan Bantuan Via Bank dan PT Pos Indonesia
- 2Klasemen Sementara Asian Games 2026: Indonesia di Urutan 14 Raih 27 Medali
- 3iPhone 18 Pro Max vs Xiaomi 18 Pro Max, Adu Spek Flagship 2026: Kamera 200MP hingga Baterai 8.500 mAh
- 4Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Berakhir Minggu Depan, Cek Tanda Bantuan Siap Cair
- 515 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Besok Siang, Cek Daftar Wilayahnya
- 6Ciri-ciri Bansos PKH BPNT September 2026 Cair dan Masuk Rekening
- 7Jadwal Timnas Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Jam Berapa?
- 8Harvest Moon 26-27 September 2026, Ini Waktu Puncak Bulan Purnama di Indonesia
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









