Sumsel

Impor Sumsel Melonjak di Awal 2026, Barang Modal Jadi Penyumbang Terbesar

Kurnia | 16 Juli 2026, 21:00 WIB
Impor Sumsel Melonjak di Awal 2026, Barang Modal Jadi Penyumbang Terbesar
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Aktivitas impor di Sumatera Selatan menunjukkan tren peningkatan sepanjang lima bulan pertama 2026. Kenaikan terbesar terjadi pada impor barang modal yang menjadi penanda meningkatnya aktivitas investasi dan pengembangan sektor industri di daerah tersebut.

Berdasarkan data terbaru, nilai impor barang modal selama periode Januari hingga Mei 2026 meningkat sebesar US$63,10 juta atau tumbuh 28,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tak hanya barang modal, impor bahan baku dan barang penolong juga mengalami kenaikan cukup signifikan mencapai US$53,23 juta atau 26,46 persen secara tahunan.

Sementara itu, impor barang konsumsi turut meningkat meski dengan nilai yang lebih kecil, yakni sebesar US$0,99 juta atau naik 13,90 persen dibandingkan Januari–Mei 2025.

Kondisi serupa juga terlihat pada kinerja impor selama Mei 2026. Seluruh kelompok barang impor tercatat mengalami pertumbuhan cukup tinggi dibandingkan Mei tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pemerintah Minta Publik Tak Terjebak Angka Utang, Rasio terhadap PDB Jadi Ukuran Kesehatan Fiskal

Impor barang modal menjadi kelompok dengan pertumbuhan tertinggi pada Mei 2026, yakni melonjak sebesar US$30,51 juta atau naik 85,86 persen secara tahunan.

Di saat yang sama, impor bahan baku dan barang penolong meningkat US$29,81 juta atau 102,70 persen, sedangkan impor barang konsumsi tumbuh US$1,02 juta atau naik 104,11 persen.

Meski terjadi peningkatan nilai impor, struktur penggunaan barang impor di Sumsel tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Barang modal masih mendominasi komposisi impor dengan kontribusi mencapai 52,09 persen dari total impor Sumsel selama Januari hingga Mei 2026.

Posisi berikutnya ditempati bahan baku dan barang penolong dengan porsi sebesar 46,44 persen. Sementara barang konsumsi hanya menyumbang sekitar 1,48 persen dari total impor.

Dominasi impor barang modal dan bahan baku tersebut menunjukkan bahwa aktivitas impor di Sumsel masih lebih banyak ditujukan untuk mendukung kegiatan produksi, investasi, serta pengembangan industri dibandingkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Peningkatan impor barang modal juga dinilai menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah karena mencerminkan adanya ekspansi usaha dan peningkatan kapasitas produksi di berbagai sektor.

Di sisi lain, tingginya impor bahan baku menunjukkan sektor industri dan manufaktur di Sumsel masih bergantung pada pasokan bahan pendukung dari luar negeri guna menjaga keberlangsungan proses produksi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia