Sumsel

Dinkes Ungkap Alasan Sumsel Rawan Flu Singapura, Anak TK dan SD Diminta Lebih Waspada

Kurnia | 30 Juni 2026, 17:59 WIB
Dinkes Ungkap Alasan Sumsel Rawan Flu Singapura, Anak TK dan SD Diminta Lebih Waspada
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit Flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD), terutama pada anak-anak usia dini.

Kondisi iklim Sumsel yang panas dan lembap dinilai menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran virus penyebab penyakit tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, mengatakan virus penyebab HFMD, yakni enterovirus, lebih mudah berkembang pada kondisi cuaca seperti yang terjadi di Sumatera Selatan.

"Sumsel termasuk wilayah yang rawan karena memiliki iklim panas dan lembap. Kondisi ini memang disukai oleh enterovirus untuk berkembang," ujar Ira, Selasa (30/6/2026).

Selain faktor cuaca, tingginya interaksi antaranak di lingkungan sekolah juga membuat penularan penyakit berlangsung lebih cepat.

Baca Juga: Herman Deru Turun Tangan soal Polemik SPMB Sumsel, Siapkan Sanksi Tegas Jika Pelanggaran Terbukti

Menurut Ira, anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD) menjadi kelompok yang paling rentan tertular karena sering melakukan kontak dekat saat belajar maupun bermain.

"Kalau satu anak terinfeksi, penularannya bisa sangat cepat karena mereka berinteraksi dalam jarak dekat setiap hari," katanya.

Tak hanya di sekolah, risiko penyebaran juga dapat terjadi di berbagai fasilitas umum yang banyak dikunjungi anak-anak, seperti taman bermain, kolam renang, hingga tempat bimbingan belajar.

Kebiasaan anak-anak yang masih sering memasukkan tangan atau mainan ke dalam mulut juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan.

Ira menjelaskan, Flu Singapura umumnya menyerang bayi dan anak berusia di bawah tujuh tahun. Namun, orang dewasa juga dapat tertular, terutama jika tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Penyakit ini memiliki masa inkubasi sekitar tiga hingga enam hari setelah seseorang terpapar virus.

Gejala awal biasanya berupa demam ringan, nafsu makan menurun, anak menjadi lebih rewel, serta mengalami sakit tenggorokan.

"Pada hari kedua atau ketiga biasanya mulai muncul sariawan atau luka kemerahan di lidah, gusi, dan bagian dalam pipi. Kondisi ini membuat anak sulit makan dan minum karena terasa nyeri," jelasnya.

Selanjutnya, pada hari ketiga hingga kelima akan muncul ruam berupa bintik merah yang berkembang menjadi lepuhan kecil berisi cairan di telapak tangan, telapak kaki, bahkan terkadang muncul di bokong dan lutut.

Dinkes Sumsel mengimbau orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada komplikasi, seperti kejang, sesak napas, tubuh sangat lemas, atau tangan dan kaki terasa dingin.

"Kalau muncul gejala tersebut, segera dibawa ke instalasi gawat darurat karena bisa menjadi tanda komplikasi serius," kata Ira.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk Flu Singapura di Indonesia.

Penanganan yang dilakukan masih bersifat suportif, seperti pemberian obat penurun demam, obat untuk meredakan sariawan, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta memberikan makanan yang mudah ditelan.

Dinkes Sumsel mengajak masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rutin mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan mainan anak, serta mengurangi kontak dengan penderita guna menekan risiko penyebaran Flu Singapura di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia