Sumsel

Kasus HIV di Sumsel Tembus 319 Orang, Palembang Masih Tertinggi, Dinkes Gencarkan Skrining dan Edukasi

Kurnia | 14 Mei 2026, 13:59 WIB
Kasus HIV di Sumsel Tembus 319 Orang, Palembang Masih Tertinggi, Dinkes Gencarkan Skrining dan Edukasi
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Kasus HIV di Sumatera Selatan (Sumsel) terus menjadi perhatian. Hingga April 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel mencatat total 319 kasus HIV ditemukan di berbagai daerah, dengan Kota Palembang masih menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi.

Meski demikian, Dinkes Sumsel memastikan tidak terjadi lonjakan signifikan dalam dua bulan terakhir, khususnya pada periode Maret hingga April 2026.

Pengelola Program HIV/AIDS Dinkes Sumsel, Irma Tiara Rizki mengatakan, tingginya angka kasus di Palembang dipengaruhi status kota tersebut sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat mobilitas masyarakat.

“Untuk Maret-April tidak ada peningkatan yang signifikan. Namun yang paling tinggi masih sama di Kota Palembang sebagai ibu kota provinsi,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Update Klasemen Liga Inggris: Persaingan Makin Ketat, Arsenal Manchester City Hanya Selisih 2 Poin

Berdasarkan data Dinkes Sumsel, mayoritas kasus HIV yang ditemukan masih didominasi kelompok usia dewasa. Sementara pada kelompok usia pelajar dan remaja, belum ditemukan peningkatan kasus baru yang menonjol selama periode tersebut.

Irma menjelaskan, sebagian besar warga yang menjalani pemeriksaan merupakan orang-orang yang merasa memiliki risiko penularan sehingga datang secara sukarela untuk melakukan tes kesehatan.

“Rata-rata yang diperiksa adalah orang-orang yang merasa berisiko. Sejauh ini masih didominasi usia dewasa,” katanya.

Untuk menekan penyebaran HIV, Dinkes Sumsel terus menggencarkan program mobile clinic atau layanan pemeriksaan bergerak di sejumlah daerah, mulai dari Palembang, Banyuasin, Prabumulih hingga Ogan Komering Ilir.

Program ini dilakukan dengan menggandeng komunitas pendamping agar pendekatan kepada kelompok rentan lebih mudah diterima. Meski begitu, di lapangan masih ditemukan masyarakat yang enggan menjalani tes HIV.

“Respons dari populasi kunci menerima karena sebelumnya sudah ada pendekatan dan dibantu kawan komunitas. Tetapi ada juga yang menolak tidak mau dites, hanya mau penyuluhan saja,” ungkapnya.

Selain pemeriksaan lapangan, edukasi tentang HIV/AIDS juga terus diberikan ke sekolah-sekolah sebagai langkah pencegahan sejak dini. Menurut Dinkes Sumsel, pemahaman pelajar mengenai bahaya seks bebas dan penularan HIV kini mulai meningkat.

“Anak sekolah mereka tahu akan bahaya seks bebas dan informasi yang tepat terkait penularan HIV sebagai langkah pencegahan sejak dini,” tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia