Sumsel

Pengamat Politik Sumsel Kritik Tajam Kepemimpinan di PALI, Krisis Prestasi Hingga Banyak Pencitraan

Maman Suparman | 2 Juli 2025, 12:53 WIB
Pengamat Politik Sumsel Kritik Tajam Kepemimpinan di PALI, Krisis Prestasi Hingga Banyak Pencitraan

AKURAT.CO SUMSEL Pengamat politik Sumatera Selatan (Sumsel), Bagindo Togar, melontarkan kritik pedas terhadap situasi politik dan kualitas kepemimpinan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Ia menilai bahwa saat ini daerah tersebut tengah mengalami krisis kepemimpinan, baik dari segi kecerdasan emosional, intelektual, maupun sosial.

“Ketiga dimensi kecerdasan itu absen. Yang terlihat hanya upaya menggantungkan diri pada popularitas tokoh nasional, bukan dari capaian prestasi dan kompetensi pribadi,” ujar Bagindo dalam diskusi publik di Palembang, Rabu (2/7/2025).

Pernyataan Bagindo ini merespons pernyataan Bupati PALI, Asgianto yang sebelumnya menyebut maraknya aksi demonstrasi sebagai hal wajar dalam sistem demokrasi.

Dalam unggahan di media sosial, Bupati juga menyinggung media agar tidak membuat framing negatif, serta mengklaim peningkatan ekonomi selama masa kepemimpinannya.

Bagindo menyayangkan sikap tersebut dan menilai bahwa kepemimpinan di PALI justru mencerminkan ketergantungan pada branding politik nasional. Ia menyebut fenomena ini sebagai praktik “ekor jas” yang tidak berkontribusi nyata pada pembangunan daerah.

“Ketokohan Prabowo dijadikan tameng untuk menutupi krisis prestasi dan investasi sosial politik. Ini gejala umum di era pencitraan, tapi gagal dalam progresivitas pembangunan,” kata Bagindo.

Lebih lanjut, ia menyoroti kebijakan pembelian mobil dinas baru senilai Rp3 miliar oleh Pemkab PALI, yang menurutnya tidak sejalan dengan semangat efisiensi yang digaungkan pemerintah pusat.

“Di saat Presiden Prabowo bicara efisiensi, justru di PALI beli mobil dinas mewah. Ini satu-satunya kabupaten di Sumsel yang melakukan itu. Di mana empatinya terhadap rakyat?” ujarnya tegas.

Bagindo juga menyinggung minimnya kemajuan pembangunan, terutama di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik. Ia menyindir bahwa alih-alih menunjukkan kinerja, pemerintah justru sibuk menampilkan gaya hidup.

“Jalan dan drainase masih rusak, fasilitas kesehatan minim, tapi yang ditonjolkan justru mobil baru. Ini pemimpin kabupaten atau peragawan?” ucapnya menyindir.

Kritik juga diarahkan pada lemahnya advokasi sosial dan meningkatnya persoalan sosial kemasyarakatan di PALI. Menurutnya, pemimpin harus hadir menyelesaikan persoalan rakyat, bukan justru terisolasi dari realitas sosial.

Ia bahkan menyebut karakter pemimpin semacam itu sebagai “intelektual pengidap autisme sosial,” yang tidak peka terhadap kebutuhan publik dan lebih fokus pada pencitraan pribadi.

Di akhir penyampaiannya, Bagindo mendorong aparat hukum, terutama kejaksaan, untuk melakukan pengawasan ketat terhadap belanja anggaran daerah. Ia juga menantang pihak terkait untuk membuka data capaian pembangunan secara transparan kepada publik.

“Jangan hanya tampilkan retorika. Publik berhak tahu, apakah benar ada kemajuan atau sekadar pencitraan. Jangan sampai rakyat hanya disuguhi gimik dan kosmetik,” pungkasnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia