Sumsel

Usai Karhutla Mereda, Sumsel Diingatkan Siaga Penuh Hadapi Banjir dan Longsor Jelang Puncak Musim Hujan

Maman Suparman | 15 November 2025, 15:27 WIB
Usai Karhutla Mereda, Sumsel Diingatkan Siaga Penuh Hadapi Banjir dan Longsor Jelang Puncak Musim Hujan

AKURAT.CO SUMSEL Setelah melewati ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim panas lalu, Sumatera Selatan (Sumsel) kini dibayangi potensi bencana baru.

Memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi, pemerintah provinsi mengimbau seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan air, longsor, hingga banjir bandang.

Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan bahwa peralihan musim membawa risiko tersendiri yang tidak boleh dianggap enteng.

“Musim hujan dengan curah tinggi punya ancaman sendiri, yaitu banjir. Ini perlu diwaspadai agar dapat dimitigasi dan disiagakan,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).

Ia meminta pemerintah kabupaten/kota agar memperkuat edukasi kepada warga dan meninjau kembali tata ruang di daerah rawan. Menurutnya, kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari skenario penanganan hingga praktik simulasi bencana.

“Kenapa kita beri peringatan? Karena curah hujan ekstrem sehingga butuh antisipasi. Bagaimana simulasi jika bencana benar-benar terjadi? Ini harus jelas,” kata Herman Deru.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana, menambahkan bahwa hujan lebat yang mulai merata di beberapa wilayah mengindikasikan naiknya potensi bencana. Ia menyoroti perbedaan ancaman antara dataran tinggi dan dataran rendah.

Baca Juga: Rumah Ahmad Sahroni Dibongkar Total Setelah Tragedi Penjarahan, Pekerjaan Dikebut Sejak Awal Pekan

“Untuk daerah pegunungan, warga harus waspada terhadap longsor dan banjir bandang. Sedangkan di dataran rendah, ancaman banjir lebih tinggi, terutama kawasan perkotaan yang drainasenya terbatas,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa pengecekan personel serta kesiapan peralatan terus dilakukan agar evakuasi dapat berlangsung cepat ketika situasi darurat terjadi.

Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel melalui Kepala Stasiun Wandayantolis mengingatkan bahwa intensitas hujan diperkirakan meningkat signifikan pada Desember 2025 hingga Januari 2026.

“Puncak hujan diprediksi terjadi pada Desember hingga Januari dan mencakup hampir seluruh wilayah Sumsel. Kondisi ini harus disikapi dengan persiapan yang matang,” ujarnya.

BMKG mencatat bahwa curah hujan tinggi berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah lembah, perbukitan, serta daerah yang berbatasan dengan aliran sungai.

Kawasan perkotaan pun tidak luput dari risiko akibat kapasitas drainase yang kerap tidak mampu mengimbangi volume air ekstrem.

“Pastikan sistem drainase kota berfungsi optimal. Pemerintah daerah harus memetakan titik rawan dan memperkuat area yang berpotensi longsor,” tegas Wandayantolis.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia