Kasus Keracunan Massal Siswa, Program Makan Bergizi Gratis Sumsel Didesak Dievaluasi Total

AKURAT.CO SUMSEL Program Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Selatan kembali menuai sorotan tajam.
Setelah ratusan siswa di enam kabupaten/kota mengalami keracunan massal, pemerintah daerah didesak melakukan evaluasi menyeluruh atas tata kelola program unggulan tersebut.
Hingga Jumat (26/9/2025), tercatat 296 siswa masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Dugaan sementara mengarah pada lemahnya standar higienitas dan minimnya pengawasan distribusi pangan di lapangan.
“Rantai distribusi makanan masih menjadi titik rawan. Banyak pelaku usaha belum memahami pentingnya higiene pangan, sementara standar kebersihan juga tidak seragam di setiap daerah,” tegas Pejabat Otoritas Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Jafrizal, dalam keterangannya.
Menurutnya, persoalan bukan terletak pada kebijakan program, melainkan lemahnya operasional di lapangan.
Baca Juga: 13 Siswa SD di Palembang Belum Kembali Bersekolah Usai Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis
Selama ini, pengawasan lebih banyak bersifat administratif dibanding substantif, lantaran keterbatasan anggaran dan sumber daya.
“Jika dilakukan pengawasan berbasis risiko dengan audit berkala serta penindakan tegas, seharusnya insiden seperti ini dapat dicegah,” ujarnya.
Ia menilai program MBG memiliki misi mulia dalam menyediakan pangan bergizi dan murah bagi pelajar. Namun, realisasi harus dibarengi tata kelola yang baik, termasuk penerapan standar sertifikasi pangan.
Jafrizal menekankan pentingnya penggunaan sertifikat resmi seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk produk hewani, Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT), serta Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) untuk pelaku UMKM pangan.
“Sertifikasi itu vital untuk menjamin keamanan pangan dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mendorong pembentukan jejaring respon cepat di setiap daerah untuk menangani kejadian luar biasa seperti keracunan massal. Integrasi teknologi digital dalam pelaporan dan pemantauan pangan juga dinilai mendesak.
“Edukasi publik harus digencarkan. Jangan hanya isu keracunan yang viral, tetapi juga pesan-pesan penting tentang higienitas pangan,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Daftar Kasus yang Pernah Ditangani Kamarudin Simanjutak: Korupsi E-KTP Sampai Pembunuhan Brigadr J
- 25 Ramalan Zodiak Hari Ini 21 Oktober 2026, Ada Peluang Baru hingga Urusan Asmara
- 3Update Jadwal Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 4 Oktober 2026
- 45 Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 20 Oktober 2026: Cinta, Karier, dan Keuangan
- 5Kumpulan Link Twibbon Hari Santri Lengkap dengan Cara Membuatnya
- 6Ramalan Zodiak Libra Hari Ini, Senin 19 Oktober 2026: Asmara Harmonis, Keuangan Perlu Dijaga
- 7Bergerak Naik, Cek Harga Emas Perhiasan Palembang Rabu 21 Oktober 2026
- 8Ramalan Zodiak Scorpio Hari Ini 22 Oktober 2026: Karier, Cinta, dan Keuangan
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









