Sumsel

Tingkat Okupansi Hotel di Sumsel Diprediksi Melonjak Jelang Nataru 2024

Deni Hermawan | 21 Desember 2024, 15:45 WIB
Tingkat Okupansi Hotel di Sumsel Diprediksi Melonjak Jelang Nataru 2024

AKURAT.CO SUMSEL Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Sumatera Selatan diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengungkapkan bahwa berbagai acara dan kegiatan besar di akhir tahun menjadi pendorong utama kenaikan okupansi, khususnya di Kota Palembang.

"Beragamnya acara yang digelar di Palembang menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan TPK. Kota ini sering menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai event berskala besar," ujar Wahyu, Sabtu (21/12/2024).

Berdasarkan data BPS, tingkat okupansi hotel pada November 2024 di Sumsel mencapai 52,21 persen, meningkat dibandingkan triwulan III. Wahyu optimistis angka ini akan terus naik hingga akhir tahun, didorong oleh tingginya aktivitas wisatawan lokal dan luar daerah.

“Sebagian besar tingkat hunian hotel berasal dari Kota Palembang, yang menjadi pusat beragam aktivitas menjelang akhir tahun,” tambah Wahyu.

Seentara, Sekretaris Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, John Johan Tisera, turut mengonfirmasi tren positif tersebut. Menurutnya, tingkat reservasi kamar hotel di wilayah Sumsel sudah menunjukkan peningkatan hingga 50 persen dan diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh mendekati puncak liburan Nataru.

Baca Juga: Jelang Nataru, Bawang hingga Cabai Naik Harga, DKPP Sumsel Pastikan Pasokan Aman

“Peningkatan reservasi mulai terlihat, terutama di hotel-hotel yang berada di lokasi strategis. Jika tren ini berlanjut, tingkat hunian diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh,” ujar John.

Namun, John mencatat adanya potensi penurunan jumlah wisatawan dari luar Pulau Sumatra yang menggunakan jalur darat. Hal ini disebabkan oleh imbauan terkait ancaman gelombang tinggi pada akhir Desember hingga awal Januari, yang dapat memengaruhi mobilitas wisatawan, khususnya dari Pulau Jawa.

“Gelombang tinggi menjadi perhatian utama, sehingga wisatawan yang biasanya menggunakan transportasi darat kemungkinan akan berkurang. Namun, kami optimistis wisatawan lokal tetap mendominasi,” jelasnya. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
H
Editor
Hermanto