Siang Malam Dikepung Gajah, Warga Tri Anggung Jaya Desak Minta Perlindungan

AKURAT.CO SUMSEL Warga Desa Tri Anggung Jaya, Kecamatan Muara Lakitan, Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel) kini hidup dalam ketakutan akibat kawanan gajah liar yang kerap memasuki area perkebunan mereka dan mendekati pemukiman.
Kejadian ini telah menyebabkan masyarakat harus terus berjaga, bahkan melakukan shift malam untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Sekretaris Desa Tri Anggung Jaya, Parsono, mengungkapkan bahwa pada malam sebelumnya, kawanan gajah kembali memasuki area perkebunan setelah waktu magrib.
Upaya menghalau gajah dilakukan oleh warga dengan menggunakan alat tradisional seperti meriam spritus dan api unggun, yang berhasil mencegah gajah mendekat.
“Saat ini, posisinya ada di petak 46,” ujarnya, Kamis (26/9/2024).
Kekhawatiran warga semakin meningkat pasca insiden tragis yang merenggut nyawa akibat serangan gajah. Parsono menjelaskan bahwa situasi ini membuat masyarakat takut untuk beraktivitas di ladang mereka, terutama dalam mencari nafkah dari hasil pertanian.
“Kami telah melaporkan masalah ini ke Kecamatan dan Kabupaten, dan kami berencana untuk melaporkannya ke tingkat Provinsi,” tambahnya.
Meskipun upaya pengusiran gajah dilakukan secara rutin oleh warga di tiga dusun, yaitu Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 4, hasilnya seringkali sia-sia.
Baca Juga: Kebakaran di Muara Enim Masih Berlanjut, Pemadaman Udara dan Darat Terus Diupayakan
Parsono menjelaskan bahwa meski gajah berhasil digiring pada malam tertentu, mereka kembali muncul keesokan harinya.
“Orang-orang takut pergi ke kebun karena peristiwa sebelumnya membuat mereka takut,” tuturnya.
Lebih mengkhawatirkan, kawanan gajah diketahui berjarak hanya sekitar 500 meter dari pemukiman. Parsono juga mencatat bahwa beberapa hari lalu, gajah hampir mendekati rumah warga, berjarak hanya sekitar 100 meter.
“Ini sangat berbahaya bagi keselamatan kami,” katanya.
Menanggapi rumor mengenai rencana warga untuk melakukan aksi demonstrasi, Parsono mengonfirmasi bahwa imbauan telah disampaikan oleh pemerintah desa dan Babinsa agar warga tidak melanjutkan rencana tersebut.
Masyarakat sebelumnya memberikan waktu satu minggu pasca kejadian untuk mendapatkan penanganan dari pihak berwenang seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Dinas Kehutanan, namun hingga saat ini belum ada tindakan nyata.
“Sekarang, masyarakat sudah tidak sabar lagi. Mereka bertanya, sampai kapan ini akan berlangsung dan belum ada penanganan dari pihak terkait,” pungkasnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 2Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 3Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 4Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 55 Ramalan Zodiak Hari Ini 17 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuangan?
- 65 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 75 Brand Kecantikan di Bawah Martha Tilaar Group, Ada PAC hingga Belia
- 8Harley-Davidson Siapkan Motor Murah Sprint, Harga Berpotensi Rp30 Jutaan
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







