Sumsel

Padi Apung, Solusi Cerdas Sumsel Tingkatkan Produksi di Lahan Rawa

Maman Suparman | 13 November 2025, 20:53 WIB
Padi Apung, Solusi Cerdas Sumsel Tingkatkan Produksi di Lahan Rawa

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus berinovasi di sektor pertanian dengan mengembangkan teknologi padi apung, sebuah terobosan yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas di lahan rawa.

Upaya ini menjadi langkah strategis, mengingat sekitar 73 persen lahan baku sawah (LBS) di Sumsel merupakan lahan rawa yang sering tergenang air.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan teknologi padi apung menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus peluang besar bagi petani di daerah berair.

“Padi apung ini akan terus kita kembangkan. Walau secara ekonomis belum menguntungkan karena media apungnya masih mahal, potensinya sangat besar untuk lahan rawa di Sumsel,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).

Menurut Bambang, media tanam yang digunakan saat ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, di antaranya styrofoam, plastik, dan HDF. Meski memiliki biaya tinggi, styrofoam dinilai cukup efisien karena dapat digunakan hingga 10 kali masa panen atau sekitar 5 tahun.

Baca Juga: Operasi Zebra Musi 2025 Dimulai 17 November, Satlantas Fokus Cegah Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas di Palembang

“Dengan perhitungan tersebut, ke depan biaya bisa ditekan. Kami berharap teknologi ini bisa diterapkan secara masif,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Dinas Pertanian Sumsel menggandeng Universitas Sriwijaya (Unsri) dan sejumlah perguruan tinggi lain guna meneliti bahan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

“Sekarang fokus kami mencari media apung paling optimal. Kalau tantangan biaya bisa kita atasi, teknologi ini berpotensi diterapkan secara luas,” tambahnya.

Bambang menjelaskan, penerapan teknologi padi apung diyakini mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) di Sumsel yang saat ini masih di angka 1,22 kali tanam per tahun.

“Artinya baru 22 persen lahan yang bisa ditanami dua kali dalam setahun. Jika padi apung berhasil dikembangkan, IP bisa naik menjadi 1,5 bahkan 2 kali tanam,” katanya optimistis.

Selain mendukung produktivitas, padi apung juga menjadi solusi bagi petani di wilayah rawan banjir agar tetap dapat berproduksi sepanjang tahun.

“Dengan padi apung, petani tidak perlu khawatir ketika lahan tergenang air akibat curah hujan tinggi. Ini solusi berkelanjutan bagi pertanian rawa di Sumsel,” tuturnya.

Bambang berharap, melalui inovasi ini, Sumsel dapat menjadi pelopor pertanian adaptif berbasis teknologi lingkungan, sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

“Kami yakin, dengan dukungan riset dan kemitraan, padi apung bisa menjadi masa depan pertanian rawa di Indonesia,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia