Sumsel

IHSG Rebound 2,58 Persen, Saham Bank Besar Kompak Menguat

Kurnia | 20 Oktober 2026, 12:02 WIB
IHSG Rebound 2,58 Persen, Saham Bank Besar Kompak Menguat
Gedung BEI

AKURAT.CO SUMSEL Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,58 persen ke level 5.125,36 pada perdagangan Selasa (20/10/2026) pukul 09.31 WIB. Penguatan ini menjadi sinyal pemulihan setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan dalam dua hari perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 11,57 persen pada Jumat (16/10/2026), kemudian kembali melemah 3,64 persen pada perdagangan Senin (19/10/2026).

Tekanan pasar dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Pada perdagangan Selasa pagi, sebanyak 489 saham tercatat menguat, sementara 254 saham melemah dan 220 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,91 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,06 miliar saham.

Penguatan IHSG turut didorong kenaikan sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami tekanan jual.

Baca Juga: Masuki Akhir Bulan, Ini 7 Tips Hemat agar Keuangan Tetap Aman hingga Gajian

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 3,73 persen ke level Rp5.000 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 6,30 persen menjadi Rp2.700 per saham.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang melonjak 7,74 persen ke Rp3.620 per saham. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 5,74 persen menjadi Rp3.130 per saham.

Meski IHSG kembali menguat, pergerakan positif pada awal perdagangan belum memastikan tekanan di pasar modal telah berakhir. Investor masih mencermati perkembangan evaluasi MSCI serta langkah pembenahan tata kelola pasar saham Indonesia.

Di tengah gejolak pasar, BEI menyiapkan dua kebijakan untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham sekaligus merespons sejumlah persoalan yang menjadi perhatian penyedia indeks global.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, langkah pertama adalah mengeluarkan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan bobot IHSG. Kategori tersebut berkaitan dengan tingginya konsentrasi kepemilikan saham.

Langkah kedua berupa penambahan informasi mengenai status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen dalam publikasi data kepemilikan saham.

Kedua kebijakan tersebut diharapkan dapat memperjelas struktur kepemilikan saham dan membantu investor mengidentifikasi hubungan afiliasi antarpemegang saham.

Sebelumnya, BEI telah menggelar pertemuan virtual dengan MSCI pada Senin (19/10/2026) untuk membahas rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Namun, pihak bursa belum mengungkapkan secara terperinci hasil pembahasan maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut.

Jeffrey mengatakan, pertemuan itu membahas sejumlah hal, tetapi detail pembicaraan belum dapat disampaikan kepada publik.

"Kami membicarakan banyak hal. Namun, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan MSCI, kami tidak dapat mengungkapkan detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).

Perkembangan kebijakan MSCI dan realisasi reformasi pasar modal diperkirakan masih menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati arah pergerakan IHSG selanjutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia