Sumsel

IHSG Sesi I Naik 0,52% ke 6.535,5, Investor Cermati Data Ekonomi dan The Fed

Kurnia | 21 Agustus 2026, 13:10 WIB
IHSG Sesi I Naik 0,52% ke 6.535,5, Investor Cermati Data Ekonomi dan The Fed
IHSG memerah di sesi I

AKURAT.CO SUMSEL Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan sesi I, Jumat (21/8/2026). Indeks naik 33,99 poin atau 0,52 persen ke level 6.535,575.

Sepanjang sesi I, IHSG bergerak fluktuatif dengan posisi tertinggi di 6.543 dan terendah di 6.500. Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif indeks pada perdagangan sehari sebelumnya.

Pada Kamis (20/8/2026), IHSG ditutup melonjak 107,46 poin atau 1,68 persen ke level 6.501,59.

Penguatan IHSG pada Jumat ditopang oleh dominasi saham yang berada di zona hijau. Sebanyak 307 saham menguat, sementara 101 saham melemah dan 555 saham lainnya bergerak stagnan.

Pada awal perdagangan, nilai transaksi tercatat sekitar Rp307,1 miliar dengan volume mencapai 588,6 juta saham. Frekuensi transaksi mencapai 47.950 kali.

Meski indeks mampu bertahan di atas level 6.500, pelaku pasar masih perlu mencermati potensi koreksi. Sejumlah sentimen domestik dan global berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Salah satu perhatian investor adalah rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia (BI).

Data tersebut menjadi penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sektor eksternal Indonesia. Investor juga akan melihat dampaknya terhadap stabilitas rupiah serta arus modal ke pasar domestik.

Pada kuartal I-2026, NPI Indonesia mencatat defisit US$9,1 miliar. Sementara transaksi berjalan mengalami defisit sekitar US$4 miliar atau setara 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek masih terbatas.

"Untuk Jumat kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dalam jangka pendek dengan support 6.482 dan resist 6.546," kata Herditya dalam riset hariannya, Jumat (21/8/2026).

Menurut dia, investor akan mencermati rilis data neraca transaksi berjalan kuartal II-2026.

Secara teknikal, level 6.500 menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Jika IHSG mampu mempertahankan posisi di atas level tersebut, indeks masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dan menguji area resistance 6.546.

Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan IHSG kehilangan level support, ruang koreksi dapat terbuka.

Dari eksternal, pasar saham masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen dalam rapat 28-29 Juli 2026.

Namun, risalah rapat yang dirilis 19 Agustus menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral AS. Tiga anggota The Fed disebut menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Sejumlah pejabat juga menilai kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan apabila inflasi belum bergerak menuju target 2 persen.

Kondisi tersebut membuat arah kebijakan The Fed pada pertemuan berikutnya menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan investor global.

Baca Juga: 3 Drakor yang Siap Tayang September 2026, Ada Hyun Bin hingga Son Ye Jin

Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah. Imbal hasil aset berbasis dolar juga dapat menjadi lebih menarik ketika suku bunga AS berada pada level tinggi.

Selain The Fed, pergerakan yield surat utang pemerintah AS tenor panjang juga menjadi perhatian.

Kenaikan yield US Treasury dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko karena investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil yang relatif menarik.

Sentimen geopolitik turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi serta kelancaran perdagangan melalui Selat Hormuz.

Gangguan terhadap pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan mencermati data uang beredar Juli 2026 yang akan dirilis Bank Indonesia.

Pada Juni 2026, uang beredar luas atau M2 tercatat Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan. Sementara penyaluran kredit tumbuh 12,1 persen.

Perkembangan likuiditas dan kredit menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk melihat aktivitas ekonomi domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia