Sumsel

Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen, Konflik Timur Tengah dan Badai AS Picu Kekhawatiran

Kurnia | 9 Oktober 2026, 11:09 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen, Konflik Timur Tengah dan Badai AS Picu Kekhawatiran
Foto Ilustrasi - Generated by Gemini AI

AKURAT.CO SUMSEL Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 4 persen pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).

Penguatan harga dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah serta potensi gangguan produksi minyak akibat badai yang bergerak menuju kawasan Teluk Meksiko, Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik 4,1 persen atau US$ 4,08 menjadi US$ 104,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,6 persen atau US$ 3,21 menjadi US$ 91,49 per barel.

Dalam perdagangan intraday, harga kedua acuan minyak tersebut sempat melonjak hingga sekitar US$ 5 per barel. Keduanya juga mencapai level tertinggi sejak 29 September 2026.

Kekhawatiran pasar meningkat di tengah potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran. Selain itu, ancaman Badai Isaias terhadap fasilitas produksi minyak dan gas di Teluk Meksiko turut mendorong kenaikan harga.

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah berdiskusi dengan Iran. Trump juga menyampaikan jaminan bahwa tidak akan ada serangan terhadap Iran hingga pemilihan paruh waktu di AS selesai.

Di sisi lain, Iran dilaporkan sedang meninjau tanggapan AS terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pihaknya akan memberikan jawaban dalam beberapa hari mendatang.

Baca Juga: Putin Bertemu Presiden Iran, Nyatakan Siap Bantu Akhiri Perang Timur Tengah

Meski terdapat upaya diplomatik, AS tetap menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran pada Kamis. Sanksi tersebut menyasar individu, jaringan, serta 17 kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia Iran.

Ketegangan regional juga meluas ke jalur distribusi energi. Prancis dan Arab Saudi dilaporkan tengah mengkaji opsi pengerahan aset militer untuk melindungi terminal minyak Yanbu.

Sementara itu, Suriah disebut mempertimbangkan bantuan militer kepada Arab Saudi dalam konflik melawan kelompok Houthi.

Gangguan Pasokan Minyak Jadi Perhatian Pasar

Selain konflik geopolitik, potensi gangguan pasokan menjadi faktor lain yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar dunia melewati jalur tersebut.

Peningkatan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada pekan sebelumnya turut memperbesar risiko distribusi minyak. Meski demikian, sejumlah negara produsen di kawasan Teluk dilaporkan mulai meningkatkan ekspor.

Kepala energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai intensitas serangan terhadap kapal oleh Iran telah mencapai tingkat tertinggi sejak perang dimulai.

"Frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai, dan kemungkinan akan semakin meningkat," kata Kavonic, dikutip dari Reuters, Jumat (9/10/2026).

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak dan memprioritaskan pasokan diesel. Kebijakan tersebut ditempuh untuk membantu mengatasi gangguan pasokan serta lonjakan harga bahan bakar akibat perang.

Badai Isaias Tekan Produksi Minyak AS

Ancaman cuaca ekstrem di Amerika Serikat turut menjadi perhatian pelaku pasar. Badai Isaias diperkirakan bergerak menuju kawasan produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko, sehingga sejumlah perusahaan mulai mengurangi aktivitas operasional.

Produksi minyak di kawasan tersebut dilaporkan telah dihentikan sekitar 1,3 juta barel per hari, atau setara 62,9 persen dari total produksi minyak di wilayah Teluk Meksiko AS.

Pada Rabu (7/10/2026), Shell dan Chevron menyatakan telah mengurangi kegiatan operasional lepas pantai. Sementara itu, BP menghentikan produksi di anjungan Na Kika dan Thunder Horse serta mengevakuasi seluruh personelnya dari fasilitas tersebut.

Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan produksi akibat badai meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan minyak di pasar global. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong harga minyak mentah dunia menguat pada penutupan perdagangan Kamis.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia