Sumsel

China Tolak Sanksi Sekunder AS terhadap Iran, Teheran Berharap Dukungan Beijing

Kurnia | 29 Agustus 2026, 12:24 WIB
China Tolak Sanksi Sekunder AS terhadap Iran, Teheran Berharap Dukungan Beijing

AKURAT.CO SUMSEL China menolak rencana penerapan sanksi sekunder Amerika Serikat terhadap pihak-pihak yang masih melakukan transaksi dengan Iran.

Sikap Beijing tersebut memunculkan harapan di Teheran bahwa China dapat menjadi salah satu penopang utama Iran dalam menghadapi tekanan ekonomi dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Namun, di internal Iran muncul perdebatan mengenai seberapa jauh China akan memberikan dukungan kepada Teheran apabila Washington meningkatkan tekanan, terutama jika sanksi mulai menyasar perusahaan dan lembaga keuangan China.

Pemerintah China sebelumnya memperingatkan akan mengambil tindakan balasan apabila perusahaan-perusahaan negaranya menjadi target sanksi sekunder AS akibat melakukan perdagangan dengan Iran.

Di sisi lain, pemerintahan Trump disebut sedang mempertimbangkan perluasan sanksi terhadap pihak-pihak China yang masih melakukan transaksi dengan Teheran, termasuk kemungkinan menyasar lembaga keuangan.

Trump sendiri tidak memberikan kepastian ketika ditanya mengenai kemungkinan Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap bank-bank China yang berhubungan dengan Iran.

“Anda tidak tahu apakah saya melakukannya. Saya tidak harus mengumumkan semuanya,” kata Trump kepada wartawan, Kamis.

Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi bahwa AS dapat memperluas tekanan dari perusahaan energi dan sektor pelayaran ke sektor keuangan China.

Sejumlah pejabat dan tokoh politik Iran menilai sikap Beijing terhadap sanksi Iran tidak semata-mata berkaitan dengan hubungan bilateral kedua negara.

Perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran di Provinsi Ardabil, Hasan Ameli, menyebut China melihat persaingan dengan Amerika Serikat dalam konteks yang lebih luas.

Dalam khotbah Salat Jumat, Ameli mengatakan Iran berada di tengah persaingan strategis antara Washington dan Beijing.

Menurut dia, upaya Amerika Serikat menguasai sumber minyak Iran juga berkaitan dengan kepentingan strategis China.

Ameli menilai posisi Beijing dapat memberikan peluang bagi Iran untuk mempertahankan aktivitas ekonomi di tengah tekanan sanksi AS.

Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf turut menyambut sikap China tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan Iran dan China tidak seharusnya bergantung pada persetujuan negara lain.

Ghalibaf menyatakan kemitraan strategis kedua negara dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati, kepentingan bersama, serta dukungan terhadap tatanan dunia multipolar.

Baca Juga: Mata Uang Iran Anjlok ke Level Terendah Tembus 1 Dolar AS Setara 2 Juta Rial, Dapat Apa?

Sementara itu, anggota Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, mendorong pemerintah mempercepat pelaksanaan kesepakatan kerja sama jangka panjang Iran-China.

Menurut Boroujerdi, posisi China sebagai salah satu pembeli utama minyak Iran membuka peluang untuk memperluas hubungan perdagangan dan investasi kedua negara.

Meski demikian, sikap China tersebut belum sepenuhnya menghilangkan keraguan di Iran.

Teheran masih harus menghadapi kemungkinan meningkatnya tekanan Washington terhadap perusahaan maupun institusi keuangan China yang terlibat dalam transaksi dengan Iran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia