Fenomena Kayu Gelondongan Pascabanjir Sumatera Picu Dugaan Pembalakan Liar, Menhut Soroti Evaluasi Total Tata Kelola Hutan

AKURAT.CO SUMSEL Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyoroti secara serius temuan ribuan kayu gelondonganyang hanyut terbawa arus banjir besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini.
Penemuan kayu berukuran besar dan tanpa kulit di sepanjang aliran sungai hingga pesisir pantai tersebut menguatkan dugaan adanya praktik pembalakan liar (illegal logging) di kawasan hulu.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah foto dan video yang memperlihatkan tumpukan kayu memenuhi aliran Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan, serta memadati bibir Pantai Parkit di Kota Padang, viral di media sosial.
Menanggapi pertanyaan publik mengenai kontribusi penebangan hutan tak terkendali sebagai pemicu banjir beruntun, Menhut Raja Juli menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi momentum evaluasi totalterhadap tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.
"Saya mengucapkan bela sungkawa dan duka mendalam terhadap bencana yang dihadapi saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ini momentum yang baik untuk kita mengevaluasi, introspeksi, bahwa ada yang salah dari pengelolaan hutan dan lingkungan hidup kita," ujar Raja Juli melalui unggahan video di akun Instagram resminya, Senin (1/12/2025).
Dugaan praktik illegal logging semakin kuat karena kayu gelondongan yang ditemukan tampak bersih dari kulit dan tidak menyerupai pohon yang roboh secara alami.
Raja Juli menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga telah menyoroti masalah ini.
"Pak Presiden juga mengatakan kemarin, bahwa penebangan hutan yang liar dan tidak terkontrol merupakan salah satu kontribusi terhadap bencana-bencana yang terjadi," katanya.
Menyikapi temuan ini, Komisi IV DPR RI berencana memanggil Menteri Kehutanan pada Kamis, 4 Desember 2025, untuk meminta penjelasan resmi. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, meminta publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan penyebabnya, sembari menekankan penanganan korban banjir harus tetap menjadi prioritas utama.
Sementara itu, WALHI Sumatera Utara menduga gelondongan kayu tersebut merupakan sisa tebangan dari aktivitas perusahaan yang beroperasi di lanskap Batang Toru.
Menurut WALHI, kawasan tersebut mengalami tekanan tinggi akibat pembukaan lahan oleh sejumlah korporasi, yang menyebabkan berkurangnya fungsi hidrologis hutan. Fungsi hutan yang menurun ini dinilai memperparah risiko banjir bandang karena hutan kehilangan kemampuan menahan volume air ekstrem.
WALHI mendesak pemerintah untuk segera memeriksa seluruh izin perusahaan yang beroperasi di bentang alam Harangan Tapanuli dan wilayah hulu DAS Batang Toru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









