Padi Apung, Solusi Cerdas Sumsel Tingkatkan Produksi di Lahan Rawa

AKURAT.CO SUMSEL Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus berinovasi di sektor pertanian dengan mengembangkan teknologi padi apung, sebuah terobosan yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas di lahan rawa.
Upaya ini menjadi langkah strategis, mengingat sekitar 73 persen lahan baku sawah (LBS) di Sumsel merupakan lahan rawa yang sering tergenang air.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan teknologi padi apung menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus peluang besar bagi petani di daerah berair.
“Padi apung ini akan terus kita kembangkan. Walau secara ekonomis belum menguntungkan karena media apungnya masih mahal, potensinya sangat besar untuk lahan rawa di Sumsel,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Menurut Bambang, media tanam yang digunakan saat ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, di antaranya styrofoam, plastik, dan HDF. Meski memiliki biaya tinggi, styrofoam dinilai cukup efisien karena dapat digunakan hingga 10 kali masa panen atau sekitar 5 tahun.
“Dengan perhitungan tersebut, ke depan biaya bisa ditekan. Kami berharap teknologi ini bisa diterapkan secara masif,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Dinas Pertanian Sumsel menggandeng Universitas Sriwijaya (Unsri) dan sejumlah perguruan tinggi lain guna meneliti bahan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.
“Sekarang fokus kami mencari media apung paling optimal. Kalau tantangan biaya bisa kita atasi, teknologi ini berpotensi diterapkan secara luas,” tambahnya.
Bambang menjelaskan, penerapan teknologi padi apung diyakini mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) di Sumsel yang saat ini masih di angka 1,22 kali tanam per tahun.
“Artinya baru 22 persen lahan yang bisa ditanami dua kali dalam setahun. Jika padi apung berhasil dikembangkan, IP bisa naik menjadi 1,5 bahkan 2 kali tanam,” katanya optimistis.
Selain mendukung produktivitas, padi apung juga menjadi solusi bagi petani di wilayah rawan banjir agar tetap dapat berproduksi sepanjang tahun.
“Dengan padi apung, petani tidak perlu khawatir ketika lahan tergenang air akibat curah hujan tinggi. Ini solusi berkelanjutan bagi pertanian rawa di Sumsel,” tuturnya.
Bambang berharap, melalui inovasi ini, Sumsel dapat menjadi pelopor pertanian adaptif berbasis teknologi lingkungan, sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
“Kami yakin, dengan dukungan riset dan kemitraan, padi apung bisa menjadi masa depan pertanian rawa di Indonesia,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Penyaluran Bansos Tahap 3 September 2026 Berakhir Minggu Depan, Cek Tanda Bantuan Siap Cair
- 2Klasemen Sementara Asian Games 2026: Indonesia di Urutan 14 Raih 27 Medali
- 315 Daerah di Sumsel Berpotensi Hujan Besok Siang, Cek Daftar Wilayahnya
- 4iPhone 18 Pro Max vs Xiaomi 18 Pro Max, Adu Spek Flagship 2026: Kamera 200MP hingga Baterai 8.500 mAh
- 5Ciri-ciri Bansos PKH BPNT September 2026 Cair dan Masuk Rekening
- 6Jadwal Timnas Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Jam Berapa?
- 7Jadwal dan Link Live Streaming Timnas Indonesia Vs Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026
- 8Samsung Galaxy A08 Resmi Rilis di Indonesia, Cek Spesifikasi dan Harganya
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









