Sumsel

Hotspot di Sumsel Tembus 898 Titik pada Juli 2025

Maman Suparman | 23 Juli 2025, 15:05 WIB
Hotspot di Sumsel Tembus 898 Titik pada Juli 2025

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) sepanjang Juli 2025, dengan total mencapai 898 titik, menjadikannya yang tertinggi dalam satu bulan selama hampir satu dekade terakhir.

Data tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, pada Rabu (23/7/2025). Ia menyebut jumlah ini melebihi angka hotspot pada Juli tahun-tahun sebelumnya, termasuk puncak karhutla tahun 2015 lalu yang hanya mencatat 656 titik.

“Sepanjang 1 hingga 22 Juli 2025, hotspot di Sumsel mencapai 898 titik. Ini merupakan angka bulanan tertinggi sejak 2015,” kata Sudirman.

Empat kabupaten menjadi penyumbang terbesar dalam ledakan hotspot tahun ini, yaitu Musi Banyuasin (205 titik), Musi Rawas Utara (145 titik), Muara Enim (127 titik), dan Musi Rawas (125 titik). Sementara sejumlah wilayah lain menunjukkan jumlah yang lebih kecil, bahkan ada yang nihil.

“Pagar Alam dan Prabumulih menjadi dua daerah yang tidak terpantau memiliki hotspot pada Juli ini,” ungkapnya.

Baca Juga: DPR RI Desak Mabes Polri Usut Tuntas Kasus TPPO Berkedok Adopsi, Soroti Dugaan Jaringan Internasional

Selain empat daerah utama penyumbang hotspot, wilayah lain di Sumatera Selatan juga mencatat sejumlah titik panas, di antaranya Lahat dengan 71 titik, PALI 57 titik, OKI 36 titik, OKU dan Empat Lawang masing-masing 33 titik, Ogan Ilir 28 titik, OKU Timur 14 titik, Banyuasin 11 titik, OKU Selatan 9 titik, Palembang 3 titik, dan Lubuklinggau 1 titik.

Berdasarkan data dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), tren peningkatan titik panas diperkirakan akan terus berlanjut hingga Oktober 2025. Agustus hingga Oktober disebut sebagai periode paling rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sudirman menegaskan bahwa keberadaan hotspot menjadi indikator penting bagi satuan tugas karhutla di daerah untuk segera melakukan pengecekan lapangan, terutama jika titik panas bertahan cukup lama di satu lokasi.

“Ini bagian dari deteksi dini sebelum terjadi kebakaran yang meluas. Selain itu, patroli dan sosialisasi terus kami lakukan, terutama agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia